Israel

Wanita Yahudi Diekstradisi ke Australia Karena Pelecehan 74 Muridnya

publicanews - berita politik & hukumMalka Leifer, WN Australia asal Israel, saat menghadiri sidang di Pengadilan Distrik Yerusalem, Israel, pada 2018. (Foto: AP)
PUBLICANEWS, Tel Aviv - Malka Leifer (54) akhirnya diputuskan diekstradisi ke Australia untuk menghadapi tuduhan pelecehan seksual terhadap 74 anak perempuan di bawah umur. Pengadilan Distrik Yerusalem, Israel, hari ini menyatakan perempuan mantan kepala sekolah Yahudi Ultra Ortodoks di Melbourne itu tidak mengalami gangguan mental seperti alasannya selama ini.

Putusan tersebut disambut gembira Dassi Erlich, mantan murid dan salah satu korban Leifer. "Ini kemenangan untuk keadilan," katanya dari Melbourne, seperti dikutip AFP, Senin (21/9). "Hari ini hati kami tersenyum," ia menambahkan.

Hakim Chana Lomp menyatakan wanita tambun yang melarikan diri dari Australia dan pulang ke Israel pada 2008 itu dilabeli gila hanya untuk menghindari ekstradisi. Ia memboyong seluruh keluarganya yang turut berimigrasi ke Negeri Kanguru untuk pulang kampung.

Pengadilan terhadap Leifer digelar kembali sejak 2018 setelah penyelidik swasta membeberkan bukti-bukti Leifer hidup normal di Israel. Detektif swasta yang menyamar merekam Leifer sedang berbelanja dan mencairkan cek di bank. Ia juga bersosialisasi dengan tetangganya di pemukiman Emmanuel, kawasan pendudukan di Tepi Barat.

Upaya ekstradisi pada 2014 dan 2016 lalu gagal karena saksi ahli kejiwaan menyatakan ia tidak layak diadili. Putusan pengadilan hari ini juga disambut gembira Kementerian Kehakiman Israel. Dalam pernyataannya, kementerian menyatakan vonis ini merupakan kemenangan supremasi hukum dan kerja sama internasional.

"Dan yang paling penting, bagi mereka yang menjadi korban kejahatan Malka Leifer," kata juru bicara Kementerian Kehakiman.

Mantan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked mengatakan putusan ekstradisi sangat tepat. "Malka Leifer harus diekstradisi ke Australia secepat mungkin," ujarnya melalui Twitter.

Namun tim hukum Leifer mengajukan banding. "Vonis ini bukan keputusan akhir, masih ada sidang di Mahkamah Agung," kata pengacara Tal Gabay dan Yehuda Fried. Keduanya akan mengajukan permohonan agar Leifer dirawat kejiwaannya di penjara Israel, tanpa perlu ekstradisi.

Proses hukum Leifer yang berkepanjangan sempat menyebabkan ketegangan hubungan Israel-Australia. Isu ekstradisi Leifer dibahas saat Presiden Israel Reuven Rivlin berkunjung ke Australia pada Februari lalu. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah24 September 2020 | 20:02:52

    algojo pelecehan.... dikurung aja. Biar nyaho.

Back to Top