Amerika Serikat

Tiga Dekade di AS, Siahaan Terancam Dideportasi ke Indonesia

publicanews - berita politik & hukumEko Sukemi bersama anak perempuannya yang berusia 16 tahun.. (Foto: dok keluarga)
PUBLICANEWS, Maryland - Binsar Siahaan sudah tinggal selama 30 tahun di Amerika Serikat. Ia hidup bersama istri Eko Sukemi dan dua anaknya yang menginjak remaja. Beda dengan kedua anaknya yang telah berkewarganegaraan AS, Binsar yang mengawali kerja sebagai supir Kedutaan Besar Indonesia di AS, ia tidak memiliki dokumen tinggal.

Petugas Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE) mendatangi rumahnya di halaman Gereja Metodis Glenmont United di Silver Spring, Maryland, AS, pada Kamis (10/9) lalu. Petugas berdalih hendak membawa Siahaan karena ingin memastikan GPS atas gelang di kakinya.

Siahaan pernah ditangkap petugas pada Februari 2020 lalu dan dibebaskan, tetapi harus dipasang monitor dalam bentuk gelang di pergelangan kaki.

Sukemi masih sempat memberikannya apel dan botol air sebagai makanan ringan untuk singgah di kantor Imigrasi. Namun, Siahaan yang dijemput pagi hari itu tak kembali. Ia dibawa ke Baltimore, kemudian dipindahkan ke Pusat Penahanan Stewart di Lumpkin untuk menunggu deportasi ke Indonesia.

Istri Siahan tidak menduga petugas telah memperdaya dengan 'tipuan' pergantian gelang kaki. Pendeta gereja tempat Siahaan bekerja dan berlindung selama 6 tahun terakhir ini, masih berupaya keras agar Siahaan bisa dilepaskan dari tahanan.

Uskup LaTrelle Easterling di Konferensi Baltimore-Washington juga memohon agar ICE membebaskan Siahaan. Ia menganggap ICE melanggar protokolnya sendiri dengan melakukan penangkapan di properti gereja bahkan dengan alasan palsu padahal Siahaan tengah mengajukan keputusan banding.

Perhatian juga diberikan anggota Partai Demokrat Maryland, termasuk Senator Chris Van Hollen dan Republik David Trone. Trone mengatakan ia dan rekan-rekannya telah menghabiskan waktu 'berbulan-bulan' bekerja di belakang layar untuk mencoba membantu ayah dua anak berusia 52 tahun itu. "Dan saya akan terus melakukannya," ujarTrone seperti dikutip Washington Post, Kamis (17/9).

Pengacara Siahaan, Elsy Ramos Velasquez, mengajukan mosi agar bisa memblokir deportasi. Ia juga mengajukan keberatan di pengadilan Federal Maryland atas penangkapan ilegal tersebut. "ICE telah melakukan upaya 'tipu muslihat' dengan dalih monitor pergelangan kaki," katanya.

Hal senada disampaikan Hakim Distrik AS Paul W. Grimm yang memerintahkan pemerintah federal tidak mendeportasi Siahaan sebelum ada keputusan yang akan diambil pada sidang 2 Oktober mendatang.

Siaahan seharusnya telah dideportasi pada 2005 tetapi terus melakukan berbagai upaya banding. Kasus yang menimpa pria berdarah Batak itu juga menimpa para imigran. Banyak kasus pendatang tanpa disertai dokumen resmi berupaya berlindung diri ke gereja.

Siahaan berimigrasi ke AS secara resmi pada 1989 dengan visa A-3 sebagai sopir di Kedutaan Besar Indonesia. Sukemi menyusul beberapa tahun kemudian dengan dokumen yang sama sebagai pengasuh keluarga diplomat.

Namun, upaya untuk memperoleh izin tinggal resmi mengalami kebuntuan. Bahkan saran pengacara AS agar mengajukan suaka sebagai minoritas Kristen Indonesia tetap tidak mendapat pengecualian.

Pada 2012, Siahaan menandatangani perjanjian 'perintah pengawasan'. ICE mengharuskan Siahaan melakukan laporan berkala.

Pendeta Kara Scroggins yang menampung Siahaan memujinya sebagai pekerja keras. Sehari sebelum ditangkap, kata Scroggins, Siahaan meminta izin padanya untuk mengganti bendera AS yang telah compang-camping dengan yang baru. Siahaan mengatakan agar bisa berkibar dengan gagah. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya19 September 2020 | 16:31:03

    Begitu ketatnya negeri paman sam, kekhawatiran yg amat sangat tinggi. Mudah-mudahan ada jln keluarnya dari para pendukungnya.

Back to Top