RRT Bungkam Kritikus Covid-19 dengan Tuduhan Pelacuran

publicanews - berita politik & hukumXu Zhangrun, profesor hukum pengkritik Presiden RRT Xi Jinping, yang dipenjara dengan tuduhan menyewa pelacur. (Foto: Getty Images)
PUBLICANEWS, Beijing - Lagi, pemerintah RRT membungkam kritikus yang menyoroti kebijakan sensor dalam pemberitaan pandemi Covid-19. Kali ini korbannya adalah Xu Zhangrun, profesor hukum terkenal dari Universitas Tsinghua, Beijing.

Zhangrun (57) dipenjara pada 6 Juli gara-gara mengkritik Presiden Xi Jinping sebagai tiran. Tapi polisi berdalih menahanannya atas tuduhan menyewa pelacur saat berkunjung ke Chengdu, RRT barat daya, pada Desember 2019. Para pembelanya menduga tuduhan ini mengada-ada untuk menjatuhkan nama baik Zhangrun.

Di RRT, berlaku 'adab' tidak boleh mengkritik pemerintah. Zhangrun melawan tabu tersebut. Ia menerbitkan sebuah esai yang blakblakan menyalahkan 'budaya pembohongan publik' dan sensor yang dikembangkan Pemerintahan Xi Jinping dalam kasus Covid-19.

"China dipimpin oleh satu orang saja, tetapi orang ini berada dalam kegelapan dan memerintah secara tiran, tanpa metode, meskipun ia terampil bermain dengan kekuasaan. Hal ini menyebabkan seluruh negara menderita," Zhangrun menulis di situs luar negeri, seperti dikutip Reuters, Rabu (29/7).

Menurutnya, kekacauan di Wuhan, Provinsi Hubei, tempat virus Corona bermula, mencerminkan masalah sistemik di Negeri Tirai Bambu itu.

Bukan sekali ini pengajar di universitas ternama RRT tersebut mengkritisi pemerintah. Pada 2018 lalu, Zhangrun bersuara keras menentang penghapusan batas masa jabatan presiden.

4 Orang Sudah Ditangkap Karena Laporkan Kondisi Wuhan Sesungguhnya

Awal Juli, tiba-tiba seorang pria memberitahu istri Zhangrun bahwa suaminya ditahan karena terlibat prostitusi. Sebanyak 20 orang mencokok Zhangrun dari rumahnya di pinggiran kota Beijing.

Zhangrun dibantu pengacara hak asasi manusia Mo Shaoping dan rekannya Shang Baojun menolak tuduhan tersebut. Polisi memperlihatkan foto wanita asal distrik Qingyang, Chengdu, yang dikatakan sebagai pelacur yang pernah disewa Zhangrun.

"Zhangrun membantah, ia sama sekali belum pernah melihat wanita tersebut," kata Mo, hari ini.

Pengacara bersama Zhangrun belum memutuskan langkah hukum selanjutnya. Pilihannya adalah mengajukan banding atau menuntut balik polisi atas kebohongan tersebut.

Sejak Covid-19 muncul di RRT, sudah banyak aktivis ditahan pemerintah. Tuduhannya sama, membuat gangguan publik, memprovokasi, dan mengacau karena membeberkan kondisi Wuhan yang sesungguhnya.

Chen Jieren, mantan jurnalis, dinyatakan bersalah pada Mei lalu atas tudingan menyebarkan kabar palsu soal kondisi Wuhan. Ren Zhiqiang, kritikus Partai Komunis yang lantang, ditahan setelah ia menulis esai tentang respon buruk Presiden Xi Jinping terhadap wabah Covid-19.

Daftar aktivis yang ditangkap masih panjang, ada nama Zhang Zan, Li Zehua, Chen Qiushi, dan Zhan Jiang. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo01 Agustus 2020 | 10:03:11

    Serem amir. Amir aja gak serem2 amat 😥

Back to Top