Jangan Ciuman di Klub Malam Jepang, Ditangkap Polisi Nanti

publicanews - berita politik & hukumKawasan hiburan malam Shinjuku, Tokyo, Jepang. (Foto: ilustrasi/allabout-japan)
PUBLICANEWS, Tokyo - Dilarang berciuman di klub-klub malam Jepang, polisi akan menangkap Anda. Kampanye untuk tidak melakukan 'ciuman mendalam' itu dilakukan oleh juru kampanye pekerja tempat hiburan malam Shinya Iwamuro menyusul munculnya kluster baru pasien Covid-19 dari kaum penikmat dugem alias dunia gemerlap.

Ia mengingatkan soal etiket berciuman. Larangan tersebut termasuk makan sepiring berdua dengan teman kencan dan berbicara terlalu intim alias tidak menjaga jarak.

"Sedapat mungkin, ciuman hanya dengan pasangan Anda, dan hindari ciuman yang mendalam," kata Iwamuro dalam konferensi pers di Tokyo, seperti ditulis The Asahi Shimbun, Senin (20/7).

Hari ini pula Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga menyerukan polisi untuk melakukan patroli ketat di tempat-tempat hiburan malam. Ia menanggapi siaran Fuji Television Network Inc yang menurunkan gambar banyaknya klub malam tak mengindahkan protokol kesehatan.

Suga menegaskan, polisi boleh menindak mereka yang berintim-intim ria di bawah undang-undang kontrol bisnis hiburan. "Mereka harus mengambil langkah berani," katanya.

Inspeksi juga berlaku di klub-klub kabaret, rumah minum, karaoke, dan tempat hiburan malam lainnya di Tokyo serta kota-kota lain. "Ringkasnya, semua tempat hiburan orang dewasa," Suga menambahkan.

Pemerintah juga berencana kembali menutup sementara tempat hiburan malam, tanpa memberi insentif bagi pemiliknya.

Hasil tes di distrik kehidupan malam Shinjuku, Tokyo, memperlihatkan meningkatnya kasus Covid-19, terutama di kalangan orang berusia 20 tahun-30 tahun. Kluster baru itu mendorong Gubernur Tokyo menaikkan status kotanya menjadi 'zona merah' sejak 15 Juli lalu.

Akhir pekan kemarin, Tokyo mencatat rekor harian tertingi pasien Covid-19, yakni 300 orang. Banyak yang menuding lonjakan terjadi setelah pemerintah melakukan kampanye menghidupkan kembali wisata domestik, termasuk 'wisata malam', untuk menggerakkan perekonomian.

Namun, Direktur Asosiasi Bisnis Kehidupan Malam Jepang Kaori Kohga mengingatkan, klub malam menjadi jaring pengaman para pengangguran akibat terkena PHK, terutama wanita lajang. Lebih dari satu juta orang bekerja di industri hiburan malam Tokyo. "Tidak ada yang akan berubah jika Anda hanya mengkritik kami sebagai orang jahat," ujar Kohga.

Ia setuju perlu dibuat etiket bergaul di klub malam, tapi tidak dengan menutup bisnisnya. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo22 Juli 2020 | 17:31:52

    nah lo. Gawat juga. Baiknya ya begitu.

Back to Top