Amerika Serikat

Dwyane 'The Rock' Johnson Sebut Polisi AS Idap Pandemi Rasisme

publicanews - berita politik & hukumPolisi Derek Chauvin menekan leher George Floyd dengan dengkulnya yang mengakibatkan kematian. Kasus ini membuat marah warga AS. (Foto: Media Sosial)
PUBLICANEWS, Minneapolis - Aktor dan mantan pegulat WWE Dwayne 'The Rock' Johnson (48) masih masygul atas kematian George Floyd. Jumat (29/5) malam ia menulis di Instagramnya, @therock.

"Beberapa hari terakhir saya terpana saat mencoba memahami kematian George Floyd," ujar The Rock di instagramnya.

Ia tidak habis pikir seorang polisi Minneapolis, Amerika Serikat, bisa sesadis itu memiting dan menindih leher pria kulit hitam itu dengan dengkulnya. Padahal Floyd (46) sudah meminta ampun dan mengatakan ia tidak bisa bernafas.

Selama 8 menit 46 detik ia ditindih lehernya dengan dengkul polisi Derek Chauvin (44). Floyd akhirnya meninggal. Warga Amerika pun marah, amuk massa menentang rasisme terjadi di sejumlah kota, termasuk pembakaran dan penjarahan di Minneapolis. Warga menuntut Chauvin dihukum seberat-beratnya.

Johnson mengatakan kematian tragis Floyd di tangan polisi sebagai 'pandemi rasisme' yang lebih buruk ketimbang Covid-19. Apa yang dilakukan Chauvin terhadap Floyd sebagai rasis, tidak berperasaan, dan penyakit berkelanjutan.

"Seorang pria diborgol, dijatuhkan ke tanah, tidak lagi menjadi ancaman. Ia meminta ampun dan tidak bisa bernafas. Tapi lututmu tetap ada di lehernya. Ini moralitas apa?" The Rock menulis dengan gusar.

Johnson, yang punya saudara yang juga polisi --yang ia sebut sebagai 'polisi baik', menyertakan unggahannya dengan tulisan tangan 'Saya tidak bisa bernapas - George Floyd' di atas secarik kertas.

Sebagai mantan atlet wrestling, ia tahu posisi lutut Chauvin di leher Floyd akan membunuhnya. "Niat Anda adalah untuk membunuh. Itu sangat jelas. Saya yakin Anda harus membayar aksi Anda," ujar Johnson.

Polisi Mineapolis mengklaim Floyd menolak ditangkap dan tidak mau masuk ke mobil polisi pada Senin (25/5). Ia ditangkap karena kepergok membayar belanjaan dengan uang palsu 20 dolar AS.

Tapi CNN mendapatkan rekaman CCTV yang memperlihatkan sebaliknya, bahwa Floyd dikelilingi empat polisi.

Setelah terjadi demo rusuh dimana-mana, keempat polisi barulah dipecat. Namun hanya Chauvin yang ditahan pada Jumat (29/5) kemarin. Salinan dakwaan pengadilan setempat menyatakan Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat dua dan tiga, artinya bukan pembunuhan langsung alias tidak disengaja.

Menurut polisi, kematian Floyd merupakan akibat gabungan dari masalah kesehatannya dan efek minuman keras. Pengacara keluarga Floyd tak puas dan meminta autopsi independen.

Chauvin ternyata punya riwayat kekerasan yang panjang terhadap warga kulit hitam. Ia merupakan satu dari enam polisi yang menembakkan pistol dalam kematian Wayne Reyes pada 2006. Ia juga melukai seorang pria dengan pisau ketika menangani kasus KDRT dua tahun kemudian.

The Pioneer Press menulis, pada 2008 Chauvin menembak dan menghajar perut warga Ira Toles.

"Jelas, sang opsir punya persoalan moralitas dan penyakit rasisme berkelanjutan," kata The Rock. "Ia harus membayarnya sekarang." (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top