Perdagangan Anjing di Kamboja Brutal, Gelap, dan Menggiurkan

publicanews - berita politik & hukumPerempuan Kamboja menerima kiriman gelap anjing untuk dimasak dan kemudian dijual lagi ke restoran. (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Siem Reap - Pekerja rumah jagal anjing Hound, Kieu Chan (41), sering menangis setiap hendak tidur. Ia selalu terbayang setiap hari harus membantai lima hingga enam ekor anjing.

Ia sering pergi ke kandang dan berbicara dengan anjing-anjing yang hendak ia gorok esok pagi. "Maafkan aku. Jika aku tidak membunuhmu, aku tidak bisa memberi makan keluargaku," katanya, seperti dikutip The Star, Selasa (12/11).

Di Kamboja, ribuan anjing dibunuh setiap hari untuk dikonsumsi. Bisnis restoran daging anjing di sana digambarkan sebagai industri yang brutal, gelap, dan penuh risiko.

LSM Four Paws memperkirakan setiap tahun sekitar 2 juta anjing disembelih untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi kelas menengan bawah Kamboja. Di ibukota Phnom Penh saja terdapat 100 restoran 'daging khusus' --begitulah mereka menyamarkan kata daging anjing. Kemudian di kota kuil Siem Reap ada 20 warung 'sengsu' (meminjam istilah lapak daging anjing Indonesia).

"Ini bisnis besar bagi warga Kamboja," ujar Khaterine Polak, dokter hewan anggota Four Paws.

Bisnis ini melibatkan penangkap anjing keliling, rumah jagal tanpa izin, tengkulak, tukang masak, dan warung serta restoran. Setiap hari jalanan kota Phnom Penh diwarnai pemandangan sepeda motor dengan panci besar di belakangnya berisi masakan daging anjing untuk disetor ke warung-warung.

Hewan bertaring itu di tingkat tengkulak dihargai 2-3 dolar AS per kilogram, 1 dolar AS setara dengan Rp 14 ribu lebih. Seorang pencari anjing bisa menyetor hingga 10 ekor setiap hari. Menurut data Four Paws, seorang pekerja rumah jagal bisa mendapatkan upah 750 hingga 1000 dolar AS sebulan.

Bandingkan dengan upah buruh prabik garmen di Kamboja yang rata-rata hanya 200 dolar AS. Tak pelak, menjadi pemburu anjing atau kerja di rumah jagal jauh lebih menggiurkan.

Namun, yang memprihatinkan, pekerja industri daging anjing sering mengabaikan risiko terkena rabies. Kamboja adalah salah satu negara dengan tingkat penderita rabies tertinggi di dunia, mayoritas karena gigitan anjing.

"Saya sering digigit anjing tetapi saya tidak divaksinasi karena ketika kembali ke rumah sudah larut malam," ujar Pring That (33), warga desa Siem Reap, kepada AFP.

Anjing-anjing yang dibantai biasanya dicuri dari halaman rumah orang atau yang berkeliaran di jalanan. Mereka umumnya belum divaksinasi sehingga rentan bagi pencurinya terkena rabies.

Masih berani bermain-main dengan risiko tinggi? (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top