Tren 'Papa Katsu' Pelajar Bikin Pusing Polisi Jepang

publicanews - berita politik & hukumSalah satu iklan media sosial pelajar Jepang yang terlibat prostitusi online 'Papa Katsu'. (Foto: Gaijinpot)
PUBLICANEWS, Hyogo - Kepolisian Prefektur Hyogo, Jepang, pusing tujuh keliling mengatasi maraknya layanan prostitusi seks pelajar di media sosial. Oktober ini, mereka bekerja sama dengan Asosisiasi Media Sosial Universitas Hyogo untuk mengidentifikasi kasus-kasus 'Papa Katsu' di kalangan pelajar.

Papa Katsu adalah istilah untuk pelajar yang mencari teman kencan pria dewasa. Mereka menawarkan seks dengan imbalan uang atau barang-barang mewah. Kasus Papa Katsu ini merata di semua provinsi di Jepang.

Universitas Hyogo kemudian merangkul mahasiswa dan pelajar yang aktif di media sosial dengan banyak pengikut. Mereka inilah yang diminta tolong polisi memerangi transaksi seks pelajar dengan tajuk 'Papa Katsu' alias pelajar yang mencari 'sugar daddy' atau ayah gula-gula.

Sebanyak 70 anggota asosiasi bergiliran melakukan patroli media sosial. Baru-baru ini mereka menemukan cuitan seorang gadis SMP. "Saya mencari seseorang yang bisa bertemu besok untuk Papa Katsu. Saya benar-benar membutuhkan uang, dan saya ingin Anda memberi saya tunai," tulis seorang siswi yang disembunyikan identitasnya, seperti dikutip laman Asahi Shimbun, Senin (14/10).

Para agen media sosial ini melapor ke polisi sepekan sekali. Polisi kemudian akan mengirimkan peringatan kepada siswi yang mengunggah 'jualan diri' tersebut dan pria hidung belang yang memakai jasanya.

Dalam tiga bulan terakhir, Asosiasi telah mengirimkan peringatan kepada 103 akun siswi dan 16 akun pria dewasa yang diduga telah melakukan transaksi seksual secara online.

Sebagian besar unggahan tersebut sudah dihapus oleh pemiliknya, beberapa diblokir oleh Twitter atas permintaan polisi.

"Postingan 'Papa Katsu' dibuat oleh pelajar, biasanya mereka menyamarkan diri dengan mengatakan mencari pekerjaan paruh waktu," kata Karin Kitamura (19), pelajar yang menjadi agen Asosiasi Media Sosial. "Para gadis ini tidak memahami betapa berbahayanya bertemu dengan orang yang tak mereka kenal," ia menambahkan.

Entah dari mana istilah 'Papa Katsu'. Media-media Jepang merujuk pada prostitusi pelajar yang semula diistilahkan dengan 'Enjokasai' yang lebih terus terang. Enjokasai sendiri artinya kencan berbayar. Adapun Papa Katsu merujuk pada gadis di bawah umur yang mencari 'mentor' atau 'ayah' untuk curhat masalah ekonomi keluarga.

Tarif menjadi 'mentor' atau 'ayah' ini berkisar 20 ribu Yen atau sekitar Rp 26 juta sehari! Servisnya meliputi menemani belanja, makan malam, dilanjutkan 'bobo-bobo cantik'

Namun tak semua kencan berjalan mulus. Yuyuna (17), misalnya, pernah kena tipu seorang papa gula-gula. Sabtu (12/10), ia menemani seorang pria paruh baya makan malam di sebuah restoran mewah di Prefektur Aichi, setelah sepanjang sore menjadi teman tidur di sebuah hotel.

Di tengah santap malam, sang 'Papa Katsu' izin ke toilet sambil meninggalkan cek senilai 30 ribu Yen di meja. Namun ia tidak kembali lagi, dan cek tersebut kosong. Yuyuna terpaksa harus membayar makan malam dan hotel mereka.

"Saya pergi ke polisi, tetapi mereka mengatakan bahwa itu ranah pribadi, saya tidak dapat mengajukan laporan. Saya sangat kecewa," katanya.

Sebelum bekerja sama dengan Asosiasi, polisi melakukan cara konvensional, yaitu menyamar sebagai sugar daddy. Namun langkah itu mudah tercium oleh pelajar pekerja seks yang lihai. Yuyuna salah satunya. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top