Karhutla

Perusahaan Indonesia Sampoerna Agri dan APP Kena Sanksi di Singapura

publicanews - berita politik & hukumPlaza Sinarmas Group di Jakarta, perusahaan induk Asia Pulp and Paper (APP) yang terkena sanksi di Singapura akibat kabut asap. (Foto: AP)
PUBLICANEWS, Singapura - Tiga perusahaan Indonesia yang berkantor di Singapura dikaitkan dengan kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang menyebabkan asap pekat di Negeri Singa.

Ketiga perusahaan tersebut adalah Ketapang Industrial Forest, perusahaan bubur kertas Asia Pulp and Paper (APP), dan April. Ketapang juga telah ditutup oleh pihak berwenang Indonesia setelah ditemukan kebakaran di lahan mereka. Ketapang adalah perusahaan afiliasi Sampoerna Agri Resources yang berbasis di Singapura.

UU di Singapura meminta ketiga perusahaan bertangung jawab karena menyebabkan atau setidaknya membiarkan terjadinya karhutla yang mengakibatkan pencemaran udara di Singapura.

Atas pelanggaran ini, ketiga perusahaan terancam denda antara 100 ribu dolar AS hingga 2 juta dolar AS sehari, atau sekitar Rp 28,2 miliar.

Juru bicara Badan Lingkungan Hidup Singapura atau NEA mengatakan, lembaganya terus memantau situasi karhutla di Indonesia. "Kami sedang menyelidiki perusahaan mana pun di bawah Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas," katanya, seperti dikutip The Star, Rabu (25/9) siang.

Meskipun hujan akhir-akhir ini telah membantu mengurangi kabut asap di Singapura, namun NEA melihat titik api atau hot spot di Sumaetra diperkirakan masih akan bertahan. Artinya, Singapura masih terancam kabut asap.

Tiga perusahaan Indonesia tersebut diidentifikasi berdasar data berbagai sumber. Antara lain, situs foresthints yang menulis artikel tentang kebakaran di wilayah konsesi APP dan April di Sumatera dan Kalimantan.

Menurut NEA, anak perusahaan APP di Jambi adalah perusahaan bubur kayu PT Wira Karya Sakti (WKS) yang hutannya turut terbakar. Namun menurut juru bicara APP, titik api berada 5 kilometer dari wilayah konsesi WKS.

"Sebagian besar berada dalam area yang dialokasikan untuk masyarakat," ujar seorang juru bicara.

Adapun hutan konsesi April di Riau juga telah disegel oleh pemerintah Indonesia pada Agustus lalu.

Mengenai Sampoerna Agri Resources, NEA mendasarkan diri pada pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan Indonesia Siti Nurbaya. Menurut Menteri Siti, Ketapang Forest Industry, perusahaan afiliasi Sampoerna Agri, ditutup menyusul karhutla di wilayah konsesi mereka.

Ketapang adalah perusahaan perkebunan karet yang berbasis di Kalimantan Barat dan punya anak usaha Sungai Menang. Sampoerna Agri Resources yang berbasis di Singapura memiliki dua pertiga saham Sampoerna Agro di Indonesia.

Pihak Sampoerna Agri menolak berkomentar ketika didatangi jurnalis Singapura. Mereka hanya menyatakan Sampoerna Agri adalah perusahaan investasi yang tak ada hubungannya dengan bisnis perkebunan di Indonesia.

The Strait Times menulis, APP dan April tidak asing dengan kasus karhutla. Dua perusahaan kayu terbesar di Indonesia itu pernah diboikot pemerintah Singapura menyusul karhutla pada 2015 silam.

Produk-produk anak perusahaan Sinarmas Group itu ditarik dari rak-rak supermarket karena melanggar 'label hijau' alias tidak ramah lingkungan. Produk APP, antara lain, adalah tisu Paseo. Baru Mei lalu Universal Sovereign Trading menarik larangan tersebut.

Tapi kini APP kembali terancam kena sanksi. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top