Remaja Inggris Jadi Buta dan Tuli Gara-gara Makanan Cepat Saji

publicanews - berita politik & hukumJunk food. (Foto: Ilustrasi)
PUBLICANEWS, Bristol - Peringatan bagi penggemar kentang goreng (french fries) dan keripik kentang (Pringles) dari resto cepat saji. Seorang remaja Bristol, Inggris, menjadi buta dan tuli setelah mengudap junk food itu selama 10 tahun.

Laman The Mirror menulis, remaja 17 tahun itu hampir setiap hari mengunyah kentang goreng, keripik kentang, sosis, dengan roti tangkep berisi irisan daging babi (ham).

Dr Denize Atan dari Rumah Sakit Universitas Bristol mengatakan, bocah yang disembunyikan identitasnya itu menjadi kekurangan gizi karena hanya menyantap makanan cepat saji selama satu dekade, sejak ia masih SD.

Ini kasus pertama di Inggris. Menurut Atan, yang membuatnya lebih buruk karena bocah pria tersebut juga tidak suka sayur. "Dia makan kentang goreng setiap hari dari toko ikan dan keripik setempat dan mengudap Pringles, roti putih, irisan ham olahan dan sosis," katanya, seperti dikutip The Mirror, Rabu (4/9).

Kekurangan vitamin tersebut mengakibatkan rusaknya saraf optik yang menghubungkan mata ke otak. Dalam istilah kedokteran, ia menderita neuropati optik gizi (NON), yang biasa menghinggapi anak-anak di negara-negara yang kekuarangan pangan.

Atan menjelaskan, kebutaan akibat junk food dikenal sebagai gangguan asupan makanan yang terbatas atau Avoidant-restrictive Food Intake Disorder (AFRID). Penderita menjadi peka terhadap rasa, tekstur, bau, atau penampilan makanan tertentu.

Makanan yang terlalu banyak mengandung karbohidrat dan gula, ia menambahkan, akan mempengaruhi pendengaran dan tulang. "Kondisi ini baru bisa diketahui setelah beberapa tahun," ujar Atan.

Kasus bocah Bristol ini menjadi bahan observasi menarik para dokter Inggris. Atan menyebut tidak ada faktor keturunan dalam penyakit 'aneh' tersebut. Ia menduga sang bocah kekurangan vitamin B12 yang ditemukan dalam jeroan, susu, ikan, dan telur.

Ketika pertama kali konsultasi ke dokter tiga tahun lalu, remaja tersebut menunjukkan kekurangan vitamin B12. Dokter kemudian menyarankannya untuk diet junk food. Namun kesehatannya tetap saja menurun karena konsumsi makanan tidak sehat sebelumnya.

Pasien perlahan mulai kehilangan serabut saraf retina. Secara hukum, ia belum bisa disebut buta total karena masih bisa melihat objek secara samar-samar.

"Makanan cepat saji bernutrisi rendah, tetapi padat energi dan murah," Atan menjelaskan. "Perilaku ini berkorelasi dengan status sosial ekonomi rendah dan kesehatan yang buruk," ia menambahkan.

Di Indonesia, jajan di resto cepat saji justru menjadi gaya hidup anak muda milenal. Jadi, berhati-hatilah. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top