Janjikan Gono-Gini Rp 34 M, Pria Australia Didakwa Bunuh Istri Asal Surabaya

publicanews - berita politik & hukumNovy Chardon hilang sejak 6 tahun lalu. (Foto: Queensland Police)
PUBLICANEWS, Queensland - Pengusaha gaek asal Queensland, Australia, John William Chardon (71) didakwa sebagai pembunuh istrinya Novy yang dinikahi pada 2000. Wanita 34 tahun asal Surabaya itu menghilang sejak 6 Februari 2011 lalu.

Hingga saat ini Novy tidak pernah ditemukan. "Lebih dari enam tahun setelah Novy menghilang, Chardon berjuang melawan tuduhan pembunuhan di Mahkamah Agung di Brisbane," sebagaimana dikutip dari BS News, Senin (2/9).

Sidang yang digelar sejak Kamis (15/8) di Mahkamah Agung Queensland, Brisbane, ini mengungkapkan fakta pasangan ini mulai tidak serasi pada 2009. Mereka berpisah meski tetap serumah hingga Novy dinyatakan menghilang.

Upaya pencarian terhadap WNI itu telah dilakukan pihak berwajib Australia. Pada Maret 2011, polisi menemukan mobil Volvo yang dikendarai Novy tak jauh dari rumahnya.

Rekaman CCTV menunjukkan barang yang dibawa Novy seperti tas tangan merk Chanel, dompet merk Prada, dompet gantungan kunci merk Louis Vuitton, kunci mobil Volvo, baju serta dua buah koper.

Dalam sidang Senin (19/8), saksi keluarga Chardon, Gllen Liscombe, mengatakan pada hari Novy menghilang ia melihat Chardon dan dua anak perempuannya terburu-buru meninggalkan rumah sambil mendorong sebuah kotak baja ke dalam mobil dengan alat pemberih karpet di dalamnya.

Sedangkan Frederika Wong, rekan Novy, mengatakan sehari setelah kejadian, ia bertandang ke rumah Chardon karena ada janji untuk ngopi bareng Novy. Ia sempat dibawa masuk ke kamar Chardon dan melihat karpet baru dibersihkan dan tampak basah.

Chardon mengatakan istrinya telah pergi tanpa memberi alasan. Pria tua itu bahkan mengajaknya berhubungan badan. "Dia bertanya apakah suami saya biasa memuaskan saya (di ranjang) ," kata Frederika dalam sidang itu. Frederica juga ditawari tas-tas bermerek bekas milik Novy tetapi ia tolak.

Pengadilan juga menghadirkan saksi Kylie Fryer yang bertemu sehari sebelum menghilangnya Novy. Korban mengatakan kepada Fryer telah lega dengan proses perceraiannya hampir tuntas. Namun, katanya, Novy takut akan reaksi suaminya bila ia menyerahkan surat dari pengacaranya soal perceraian.

Saksi lain, Marshall Aquilor mengatakan pernah bertemu dengan Chardon pada 2011. Ia menyebutkan dipesan untuk membunuh istrinya. Ketika ditolaknya, terdakwa meminta mencarikan pembunuh bayaran. "Dia akan membayar 10.000 dolar AS (Rp 100 juta) jika saya bisa menemukan pembunuh bayaran," katanya.

Dalam sidang, Chardon mengatakan pada hari istrinya menghilang, hanya mengatakan ingin pergi jauh. Istrinya mengenakan celana pendek ketat. Ia pun menepis sebagai pelaku pembunuhan.

"Saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya tahu bahwa saya tidak melakukan apa-apa padanya," kata John Chardon.

Bahkan, ia mengaku memanjakan istrinya. Ia menyebutkan memberikan uang mingguan sebesar 1.200 dollar per minggu. Bahkan, ada tas tangan diberikan senilai 60.000 dollar AS.

Tak hanya itu, Chardon mengaku kerap membiayai Novy yang kencan dengan pria lain. "Saat pulang dia menyerahkan tagihan hotel dan restoran. Saya lalu mentransfer uang ke rekeningnya. Saya tidak masalah dengan hal itu," ujarnya.

Istrinya pernah mengatakan ingin pembagian aset dengan komposisi 50:50. Bahkan, Novy berniat mengambil investasi berniali 600 ribu dollar di bidang bertambangan dan pensiun miliknya.

Pada sidang Jumat (30/8) lalu, Chardon mengatakan ia telah menawarkan harta gono-gini sebesar 3,5 juta dollar AS atau setara Rp 35 miliar.

Ia pun membantah tega membunuh Novy karena marah ketika istrinya menyerahkan surat perceraian dengan tuntutan hak asuh atas dua anak mereka.

Pengacara Tony Kimmins mengatakan jaksa belum berhasil membuktikan bahwa kliennya menjadi pelaku pembunuhan istrinya sendiri. Sidang kasus ini masih berlanjut pada September ini. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top