Inggris

Pangeran Andrew Diselidiki FBI dalam Kasus Perbudakan Seks

publicanews - berita politik & hukumPangeran Andrew bersama Virginia Giuffre, yang mengaku pernah melayaninya tiga kali saat berusia 17 tahun. (Foto: Rex Features)
PUBLICANEWS, London - Pangeran Andrew (59), pewaris tahta Kerajaan Inggris urutan ke-6, dikait-kaitkan dengan perbudakan seks yang dilakukan sahabatnya miliarder Jeffry Epstein (66). Biro Penyidik Federal atau FBI Amerika Serikat sedang menyusun opsi untuk memeriksa adik Pangeran Charles itu.

Saat ini FBI tengah menyisir jejak forensik surat elektronik atau imel percakapan Epstein dengan Andrew, sang Adipati York atau Duke of York, membahas perbudakan seks. Ada dugaan, Pangeran Andrew dan teman-teman Epstein lainnya tahu kejahatan yang dilakukan oleh sang miliarder.

"Jika imel 'menarik' dari Duke of Yorke ditemukan, ia dapat dimintai keterangan oleh FBI, bahkan komputernya bisa disita," tulis media Inggris The Telegraph.

Polisi telah menyita perangkat komputer Apple dan dua komputer desktop dari pulau pribadi Epstein di Kepulauan Virgin, AS. Piranti elektronik tersebut menjadi barang bukti penting untuk mengungkap sindikat perbudakan dan perdagangan seks yang dilakukan Epstein terhadap gadis di bawah umur.

Mantan jaksa penuntut New York Adam Citron mengatakan, FBI serius ingin mengorek keterangan Andrew soal persahabatannya dengan Epstein. Pemeriksaan bisa dilakukan melalui Skype, atau FBI mengirimkan detektifnya ke London.

"Mereka akan mewawancarai Andrew melalui Skype, atau jalur komunikasi aman lainnya, atau mereka akan mengirim penyelidik ke Inggris," kata Citron, seperti dikutip The Sun, Selasa (27/8).

Epstein, investor asal AS, diketahui gantung diri di dalam penjara New York pada 10 Agustus lalu. Ia tengah menghadapi serangkaian tuntutan hukum yang dilaporkan oleh para korbannya.

Adalah Virginia Giuffre yang menyeret-nyeret nama Andrew dalam kasus Epstein. Ia mengaku pernah diperintah Epstein untuk melayani Andrew dalam tiga kesempatan saat berumur 17 tahun.

Sidang kasus perbudakan seks ini pernah digelar di Pengadilan New York pada 2015 lalu. Namun hakim menyatakan tuntutan Virginia terhadap Andrew tidak lengkap dan 'tidak sopan'.

Virginia membuka kembali kasus perbudakan seks ini bersama lima wanita korban lainnya menyusul kematian Epstein. Media-media AS dan Inggris menjuluki Epstein sebagai 'miliarder pedofilia'.

Para korban telah mengajukan gugatan meminta bagian atas aset Epstein senilai 458 juta Pounds, sekitar Rp 7,9 triliun, sebagai ganti rugi. Dalam gugatannya mereka mengatakan direkrut Epstein melalui perusahaan rekanan.

Epstein ditangkap pada 6 Juli 2019 atas tuduhan terlibat dalam perdagangan seks puluhan gadis usia 14-an tahun, sepanjang 2002 hingga 2005. Ia terancam hukuman akumulasi 45 tahun.

Istana Buckingham menyatakan akan membantu pihak berwenang. Adapun Andrew, ia menegaskan terlalu banyak spekulasi menyusul kematian sahabatnya itu. "Khususnya terkait persahabatan saya dengan Mister Epstein, saya ingin mengklarifikasi fakta untuk menghindari spekulasi lebih lanjut," katanya.

Duda cerai dengan Sarah Ferguson itu mengaku sejak kenal Epstein pada 1999, hanya satu dua kali ia bertemu setiap tahun. Andrew membenarkan ia pernah tinggal di apartemen atau rumah Epstein saat liburan, tapi ia jarang bertemu langsung.

Selama itu pula putra kedua pasangan Ratu Elizabeth-Pangeran Phillip itu mengaku tidak pernah melihat sahabatnya mempunyai perilaku seks menyimpang pedofilia, alias 'pelalap daun muda'. Andrew sendiri dikenal sering pelesir dengan sejumlah wanita sejak menduda pada 1996. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top