Kesengsem Pria Korsel dan Hendak Nikah? Baca Fakta Ini

publicanews - berita politik & hukumViral video suami Korsel menganiaya istrinya yang asal Vietnam, awal Juli lalu. Anak mereka hanya bisa menangis di dekat ibunya. (Foto: YouTube)
PUBLICANEWS, Seoul - Anda kesengsem dan berencana menikah dengan pria Korea Selatan? Ada baiknya Anda melihat data Pusat Hak Azasi Manusia (HAM) Migran Korea bulan ini, tercatat 21 kematian perempuan migran karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurut Kepala Divisi Perempuan Migran Komnas HAM Korsel Kang Jye-sook, wanita migran sangat rentan menerima KDRT. Hal itu karena pria Korsel cenderung meremehkan perempuan dari negara 'yang lebih miskin'.

"Pria Korea cenderung memandang rendah dan mendiskriminasi orang asing dari negara-negara miskin," kata Jye-sook, seperti dikutip Korea Herald, Kamis (25/7).

Awal Juli lalu, warga Seoul digegerkan beredarnya video seorang pria menganiaya istrinya yang asal Vietnam. Selama 3 jam, sang suami 36 tahun tersebut memukul, menampar, dan menendang wanita 30 tahun itu hanya karena belum juga fasih berbahasa Korea selama tiga tahun pernikahan mereka. Sementara anak mereka yang berusia 2 tahun menangis di samping sang ibu.

"Bukankah sudah kuperingatkan kamu tidak sedang di Vietnam?" si pria membentak.

Media setempat mengatakan, korban berhasil merekam serangan itu melalui ponsel yang disembunyikan di dalam tas popok di rumah mereka di Yeongam, Provinsi Jeolla Selatan. Perempuan Vietnam itu mengalami patah tulang rusuk dan kini dipindahkan ke pusat perlindungan perempuan bersama anak laki-lakinya. Adapun pria Korsel itu kemudian dicokok polisi.

Jye-sook mengatakan, KDRT dalam perkawinan campur terjadi karena hambatan bahasa, kurangnya ikatan sosial, dan status kependudukan yang tidak jelas. Yang lebih mendasar lagi, ia menambahkan, kurangnya kesadaran akan kesetaraan gender pada sebagian besar pria Korsel.

Dalam surveinya terhadap 920 istri asing, Komnas HAM Migran mencatat ada 42,1 persen mengalami KDRT. Lalu hampir 28 persen mengatakan mereka dipaksa melakukan hubungan seks yang tidak wajar.

Sebagian besar pria Korsel mendapatkan istri asingya melalui agen perjodohan. Mereka merasa telah 'membeli barang' dan bukan istri. "Bagi para pria ini, perempuan tersebut adalah hak miliknya," Jye-sook menjelaskan.

Immigration Control Act atau UU Pengendalian Imigrasi sebetulnya membatasi perkawinan dengan warga asing. Namun banyak biro jodoh beroperasi sembunyi-sembunyi, mereka memajang foto wanita migran layaknya agen prostitusi, lengkap dengan pose seksi mereka. Dalam banyak kasus, agen menjamin akan mengembalikan uang jika si perempuan melarikan diri.

Sulitnya perkawinan migran ini membuat para wanita asing sangat bergantung pada suami Korsel-nya, terutama untuk hak tinggal dan membesarkan anak hasil pernikahan campuran ini.

"Sebagian besar istri migran tidak mau mengadukan perlakuan kasar suaminya demi anak-anak mereka," kata Goh Ji-woon, pengacara dari Immigrants Advocacy Center Gamdong.

Di bawah UU Kontrol Imigrasi, perempuan migran tidak punya hak tinggal di Korsel lagi begitu bercerai. Kecuali mereka bisa membuktikan bahwa perceraian tersebut bukan kesalahannya.

Menurut statistik Korsel, jumlah pernikahan internasional terus meningkat. Pada 2018, tercatat ada 22.698 pernikahan antarnegara, naik 8,9 persen dari 20.835 pernikahan pada tahun sebelumnya. Mayoritas perempuan migran tersebut berasal dari Vietnam, diikuti oleh Tiongkok dan Amerika Serikat.

Memang ini kasuistik, tapi 'untung' tidak banyak wanita Indonesia menikah dengan pria Negeri Ginseng. Korea bukan hanya gemerlap K-Pop. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top