Jaringan Teroris Internasional di Balik Bom yang Tewaskan 290 Orang di Sri Lanka

publicanews - berita politik & hukumKondisi ledakan bom bunuh diri di gereja di Sri Lanka, Minggu (21/4). (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Kolombo - Korban meninggal dalam serangan bom di sejumlah gereja dan hotel di Sri Lanka mencapai 290 orang, sebanyak 500 orang mengalami luka-luka. Serangan pada Minggu Paskah (21/4) itu kian berdarah andaikan 87 detonator bom yang ditemukan di stasiun utama kota itu tidak berhasil dijinakkan.

Perdana Menteri Wickremesinghe telah menyerukan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam. Penyelidik mengatakan, tujuh pelaku bom bunuh diri ambil bagian dalam serangan itu. Menurut juru bicara pemerintah, sebanyak 24 orang telah ditangkap. Serangan ini diduga melibatkan jaringan teroris internasional.

Juru Bicara Abinet Rajitha Senaratne menambahkan, pemerintah percaya jaringan internasional terlibat. "Kami tidak berpikir organisasi kecil dapat melakukan semua itu. Kami sekarang sedang menyelidiki dugaan dukungan internasional untuk mereka dan hubungan mereka yang lain. Bagaimana mereka menghasilkan pelaku bom bunuh diri dan bom seperti ini,” katanya, seperti dilansir Reuters, Selasa (23/4).

Rajitha menyatakan pemerintahan mencurigai National Thawheed Jama'ut (NTJ), kelompok radikal Islam di Sri Lanka, mendapat bantuan dari jaringan internasional dalam melancarkan serentetan ledakan bom mematikan di delapan lokasi terpisah

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengatakan pemerintah akan mencari bantuan asing untuk melacak pelaku bom bunuh diri dan jaringannya di luar negeri.

Para pakar anti-terorisme internasional mengatakan jika serangan kelompok lokal tersebut kemungkinan besar mendapat dukungan Al Qaeda, mengingat tingkat kecanggihan bom yang digunakan.

Pada 11 April lalu sebuah dokumen intelijen asing telah memperingatkan kemungkinan serangan terhadap gereja yang akan dilakukan oleh National Thawheed Jama'ut. Namun, hingga kini belum ada kelompok maupun pihak tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan ledakan bom tersebut.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah nasihat perjalanan menyebutkan 'kelompok teroris' sedang merencanakan kemungkinan serangan di Sri Lanka dengan target mencakup tempat-tempat wisata, pusat transportasi, pusat perbelanjaan, hotel, tempat ibadah, dan bandara.

Dalam serangan Paskah berdarah ini, dua pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di Hotel Shangri-La di tepi laut Kolombo. Pelaku lain menargetkan tiga gereja dan dua hotel. Sebuah hotel dan rumah di pinggiran ibukota Kolombo juga menjadi target.

Korban yang tewas dan terluka sebagain besar merupakan warga Sri Lanka. Sedangkan korban warga asing sebanyak 32 orang. Mereka berasal dari Inggris, AS, Australia, Turki, India, Cina, Denmark, Belanda, dan Portugis.

Pria terkaya Denmark Anders Holch Povlsen dan istrinya kehilangan tiga dari empat anak-anak mereka dalam serangan itu. Seorang ibu dan anak Inggris terbunuh ketika makan pagi di Shangri-La. Lima politikus India juga tewas di hotel yang sama.

Korban selamat Sam asal Australia mengatakan, peristiwa di hotel mirip pembantaian. Beberapa detik sebelum bom meledak ia melihat dua pria mengenakan ransel.

"Ada orang-orang yang menjerit dan mayat di sekitar," katanya. "Anak-anak menangis, anak-anak di tanah, aku tidak tahu apakah mereka sudah mati atau tidak, benar-benar gila," ia menambahkan.

Pemandangan serupa terjadi di dua gereja di Kolombo, dan gereja ketiga di kota timur laut Batticaloa. Gambar-gambar menunjukkan mayat-mayat di tanah dan bangku. Para korban berlumuran darah, hingga menciprat ke patung-patung gereja. Lusinan orang tewas dalam ledakan di gereja St Sebastian bergaya Gotik di Katuwapitiya, utara Kolombo.

Presiden AS Donald Trump menjanjikan dukungan AS untuk menyeret para pelaku ke pengadilan. “Suatu hal yang mengerikan, mengerikan. Tak terpikirkan. Kami bekerja dengan Sri Lanka," ujar Trump.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus menyesalkan serangan itu dan menyerukan kecaman universal atas apa yang ia sebut sebagai 'tindakan teroris, tindakan tidak manusiawi' yang tidak pernah bisa dibenarkan.

Sri Lanka merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha. Beberapa dekade sebelumnya kerap terjadi serangan separatis etnis minoritas Tamil, kebanyakan beragama Hindu. Namun, kekerasan telah berakhir sejak kemenangan pemerintah dalam perang saudara 10 tahun terakhir. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top