Teroris Masjid Selandia Baru

Yama Nabi Datang ke Sidang Tertutup untuk Melihat Wajah sang Pengecut

publicanews - berita politik & hukum'Teroris putih' Brenton Tarrant, pembantai 50 jemaah masjid di Selandia Baru. (Foto: Facebook)
PUBLICANEWS, Christchurch - Yami Nabi pagi-pagi datang ke Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, bersama 50 anggota keluarga korban pembantaian yang dilakukan teroris Brenton Tarrant (28). Penting baginya untuk melihat wajah pembunuh ayahnya, Haji Daoud Nabi (77), di depan Masjid Al Noor pada 15 Maret lalu itu.

"Saya ingin melihat wajah sang pengecut," katanya, seperti ditulis laman Radio RNZ, Jumat (5/4).

Haji Daoud Nabi adalah imigran asal Afghanistan yang menyediakan tubuhnya sebagai tameng jemaah lain agar Tarrant tak membunuh lebih banyak korban lagi. 'Kepahlawanan' Daoud Nabi viral di media sosial dunia.

Pagi tadi waktu Selandia Baru, Tarrant menjalani sidang keduanya. Hakim Cameron Mander menyatakan sidang berlangsung tertutup, hanya 50 keluarga korban yang boleh hadir. Itu pun mereka hanya bisa melihat Tarrant sekejap, selebihnya mereka mendengar suara dan gambarnya yang diambil dari balik pintu.

Sidang berlangsung 30 menit. Jaksa membacakan dakwaan bahwa Tarrant dituntut untuk 50 aksi pembunuhan dan 39 percobaan pembunuhan. Hakim kemudian membacakan nama-nama korban pembantaian.

Setelah itu, hakim Mander meminta Jaksa memeriksa kejiwaan Tarrant untuk mengetahui apakah ia gila secara hukum atau layak diadili.

"Ini adalah prosedur umum dalam pengadilan di Selandia Baru," kata Mander.

Tarrant hanya diam, dingin, dan nyaris tak bergerak bagai patung. Berbeda dengan pernyataannya pada sidang sela lalu bahwa ia akan membela dirinya sendiri, kali ini pria Australia itu mau didampingi dua pengacara yang disediakan pemerintah.

Seusai sidang, kepada New Zealand Herald, Yama mengatakan puas telah melihat wajah sang pembunuh.

"Saya hanya ingin mendengar apa yang dia katakan, perasaan macam apa yang dia rasakan. Untuk melihat apa reaksinya, baik atau buruk, dan kebenaran apa yang akan keluar dari mulutnya," ujar Yama, yang 'beruntung' tak jadi korban karena datang terlambat ke Masjid Al Noor.

Haji Daoud Nabi Menyediakan Tubuhnya untuk Selamatkan Jemaah

Keluarga korban lainnya menolak dimintai komentar. Mereka buru-buru meninggalkan gedung pengadilan karena khawatir pernyataannya bisa jadi bumerang.

Selain Yama, hanya Farid Ahmed yang mau sedikit menyampaikan pendapatnya tentang Tarrant. Ia memaafkan sang pembunuh massal kendati istrinya menjadi salah satu korban tewas.

"Aku ingin menyimpan dendam, tapi itu tidak akan mengembalikan istriku," ujarnya.

Tidak semua korban luka maupun keluarga korban tewas bisa memberi maaf untuk saat ini. Yama mengatakan, ia masih sering mendengar suara berondongan senapan otomatis dalam tidurnya.

"Bagaimana kamu bisa memaafkan seseorang jika ayahmu tidak lagi bisa meneleponmu, berbicara denganmu, tersenyum di depan wajahmu dari pagi hingga malam?" katanya.

"Bagaimana kamu bisa memaafkan orang sekeji itu? Maksud saya, pada akhirnya biarkanlah Allah yang memutuskan," ia menambahkan.

Tarrant ditempatkan di penjara dengan tingkat pengamanan maksimum di Auckland. Ia tidak memiliki akses televisi, radio, surat kabar, dan bahkan dilarang menerima pengunjung. CCTV memantau pergerakannya 24 jam di sel isolasi.

Sidang akan dilanjutkan pada 14 Juni mendatang. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top