Selandia Baru

Besok, Teroris Putih Brenton Tarrant Hadapi Dakwaan Membantai 50 Jemaah

publicanews - berita politik & hukumSampul muka tabloid Inggris yang menjuluki Brenton Tarrant sebagai monster pembantai. (Foto: moderndiplomacy.eu)
PUBLICANEWS, Wellington - Teroris kulit putih Brenton Tarrant (28) bakal didakwa membunuh 50 orang dan 39 percobaan pembunuhan lainnya. Sidang serangan terhadap jemaah dua masjid ini akan digelar di Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, Jumat (5/4) besok.

"Dakwaan lainnya masih dalam pertimbangan. Karena kasus sudah masuk pengadilan, polisi tidak dapat berkomentar lebih lanjut," kata sumber kepolisian Christchurch, seperti dikutip Anadolu Agency, Kamis (4/4).

Hakim Cameron Mander meminta Tarrant, asal Australia, menyiapkan tim pembela karena dakwaan Jaksa sangat serius. "Sidang Jumat besok tidak mengagendakan pembelaan terdakwa, tapi ancaman hukuman kepadanya membuatnya harus didampingi pembela," ujar Mander.

Dalam sidang sela sehari setelah ia membantai jemaah salat Jumat, 16 Maret lalu, Tarrant telah menegaskan tidak memerlukan pengacara. Ia akan membela dirinya sendiri.

Seperti ibunya Sharon (57), Tarrant adalah guru di sekolah dekat rumahnya di kota kecil Grafton, New South Wales, Australia. Namun ia lebih tertartik dengan gerakan sayap kanan.

Tarrant, yang juga bekerja sebagai instruktur gymnasium milik neneknya, membangun ideologi rasisnya melalui internet. Ia tercatat sebagai anggota Lad Society, kelompok ekstrimis kulit putih paling terkenal di Australia. Anggota kelompok ini pernah menyusup di sayap pemuda Partai Nasional --koalisi pemerintah sekarang.

Menurut Australia Broadcasting Corporation, pria atletis itu juga menjadi anggota United Patriots Front (UPF), kelompok sayap kanan Australia lainnya. Di UPF, ia dijuluki 'sang Kaisar'.

Penganut Ku Klux Klan, Keluarga Nyatakan Brenton Tarrant Layak Divonis Mati

PM Australia Scott Morrison mengatakan, dalam 9 tahun terakhir Tarrant menghabiskan waktu melawat ke Eropa dan Asia. "Ia tidak masuk dalam radar (intelijen) mana pun karena kulit putih," ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Tarrant hanya 45 hari berada di Australia. Ia diketahui mengunjungi Austria selama sembilan hari, sebelum pulang ke Australia. Ia lalu menyeberang ke Selandia Baru untuk membantai jemaah masjid di Christchurch.

Di Austria, menurut Kanselir Sebastian Kurz, Tarrant menemui kelompok ultranasionalis di kota-kota kecil negaranya.

Tarrant membangun basis supremasi kulit putih dengan mengadopsi gerakan Ku Klux Klan (KKK) di Amerika Serikat. KKK adalah kelompok rasis yang sangat ekstrim pada tahun 1865 hingga 1944.

Sepupunya Donna Cox heran darimana Tarrant mendapatkan ideologi ekstrimis itu. Atas apa yang telah dilakukannya terhadap muslim di Selandia Baru, Donna mengatakan Tarrant selayaknya dihukum mati.

"Ia sinting dan pantas dihukum mati karena kebiadabannya itu," kata Donna di New South Wales, Australia, empat hari setelah ia membantai jemaah dengan senapan otomatis itu. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top