Selandia Baru

Pembunuh di Masjid Christchurch Pecat Pengacaranya

publicanews - berita politik & hukumBrenton Tarrant saat menjalani sidang Sabtu (16/3). (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Selandia Baru - Terdakwa kasus pembunuhan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, tidak akan menggunakan pengacara pada sidang keduanya, 5 April mendatang.

Pasca sidang awal pada Sabtu (16/3), warga Australia 28 tahun itu telah memecat pengacaranya Richard Peters. Diberitakan The New Zealand Herald, Senin (18/3), terdakwa berniat mewakili dirinya sendiri di pengadilan.

"Brenton Tarrant tak menjelaskan alasan mengapa ia ingin mewakili dirinya sendiri di pengadilan," kata Peters.

Kondisi Tarrant, kata Peters, tampak tenang dan tidak mengalami ketidakstabilan mental meski terancam hukuman mati. "Dia punya pandangan ekstrem yang ia pegang kuat," Peters menambahkan.

Keputusan membela diri sendiri ini banyak dikhawatirkan akan menjadi sarana propaganda baginya untuk menyebarkan pandangan ekstremnya. Tarrant diduga merupakan penganut supremasi kulit putih alias white supremacy

Hal itu ia simbolkan ketika hakim pada sidang pertama mempersilakan wartawan untuk mengambil gambarnya. Seolah mengatakan ia dalam kondisi baik-baik saja,, pria yang diborgol ini mengirimkan gestur tangan yang populer sebagai salam kelompok dominasi ras.

Dalam forum internet bernama 4chan, kelompok ini memakai tanda OK atau simbol dari gerakan 'Operation O-KKK'. Simbol ini membentuk tiga jari ke arah atas membentuk huru 'W' (White) dan ibu jari membentuk semcam lingaran atau simbol P (Power).

Diketahui White Power sebagai istilah untuk pendukung white supremacy atau pandangan tentang dominasi kulit putih di dunia.

Dalam peristiwa 'Jumat berdarah' itu, korban meninggal mencapai 50 orang, satu diantaranya adalah WNI bernama Lilik Abdul Hamid. Sedangkan yang masih menjalani perawatan 34 orang dan 12 orang dalam keadaan kritis.

Dua orang WNI yang masih menjalani perawatan yaitu Zulfirman Syah dan anaknya. Keduanya disebutkan dalam keadaan stabil. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top