Malaysia

Kasus Ditutup, Keluarga Akan Bawa Kematian Model Ivana ke Pengadilan Belanda

publicanews - berita politik & hukumModel asal Belanda Ivana Esther Smit (19), yang kematiannya dianggap 'kecelakaan' oleh Pengadilan Koroner Malaysia. (Foto: Instagram/@ivana-smit)
PUBLICANEWS, Kuala Lumpur - Pengacara Ivana Esther Smit (19) berencana membawa kasus kematian model belia itu ke Belanda. Sebas Diekstra, sang pengacara, menyampaikan hal itu menyusul ketidakpuasannya atas putusan Pengadilan Koroner Kuala Lumpur yang menutup kasus karena menganggap sebagai 'kecelakaan'.

"Bagaimana mungkin tubuhnya ditemukan di lantai bawah, sementara tidak ada pelakunya? Apakah mayat bisa berjalan sendiri?" katanya seusai sidang, Jumat (8/3), seperti dikutip laman Netherlands Times. "Saya tidak puas atas vonis tersebut," ia menambahkan.

Hakim Mahyon Talib dalam putusannya menyatakan memang ada tanda-tanda bekas perkelahian di tubuh Ivana, yang ditemukan telanjang dan terempas dari lantai 20 ke balkon lantai 6 sebuah kondominium.

Namun tidak ada saksi yang bisa memastikan ada perbuatan kriminal. "Kita tidak bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka bertiga," ujar Hakim Talib. Ia menggunakan istilah 'misadventure' atau 'kesialan' untuk kematian runner-up kedua Miss Malaysia Super Model Search 2014 itu.

Diketahui, pada malam sebelum Ivana ditemukan jatuh di balkon lantai enam apartemen di Jalan Dang Wangi, Kuala Lumpur, gadis yang sejak kecil tinggal bersama keluarga di Malaysia tersebut melakukan seks bertiga atau threesome dengan pasangan pengusaha Alexander Johnson (44) dan Luna Almaz (31).

Terjatuh Usai Threesome, Pengadilan Pastikan Kematian Ganjil Model Belanda

Sumber kepolisian mengatakan, ketiganya mengonsumsi banyak alkohol dan narkotika saat 'pesta seks'. Ahli patologi forensik yang didatangkan dari Belanda, Frank van de Groot, menyayangkan banyak kesalahan dibuat polisi saat menangani mayat Ivana.

Groot menyebut, misalnya, tidak ada pengukuran suhu tubuh saat Ivana ditemukan tewas. "Itu membuat perbedaan besar dalam penyelidikan, apakah ia masih hidup atau meninggal saat jatuh," katanya, dalam kesaksiannya di Pengadilan Koroner.

Kasus makin kabur karena polisi membiarkan pengelola apartemen membersihkan kamar pasangan AS-Kazakhstan tersebut sebelum olah TKP. Johnson-Almaz juga diperbolehkan pulang ke negaranya dan menolak panggilan sebagai saksi.

"Tidak mungkin lagi untuk menentukan secara tepat apa yang telah terjadi antara Ivana dan pasangan itu," ujar Diekstra.

Kantor Kejaksaan Belanda sedang menyelidiki apakah kasus kematian ganjil Ivana bisa diambilalih oleh pengadilan 'Negeri Oranye'.

Di Malaysia, perkara kematian yang samar-samar diadili di Pengadilan Koroner. Kasus Ivana yang meninggal pada Desember 2017 ini baru disidang pada Agustus 2018 setelah keluarga Ivana mendesak otoritas Malaysia. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top