Australia

Dinyatakan Bersalah Lakukan Pelecehan Seksual, Kardinal George Pell Terancam 50 Tahun Penjara

publicanews - berita politik & hukumKardinal George Pell (77) dijaga ketat polisi seusai sidang kasus pelecehan seksual di Pengadilan Melbourne, Australia, Selasa (26/2) pagi. (Foto: The Australian)
PUBLICANEWS, Melbourne - Pengadilan Melbourne menyatakan Kardinal George Pell (77) bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap dua bocah pria anggota paduan suara gereja.

Kasus ini ditutup-tutupi selama 22 tahun, korbannya adalah dua bocah 13 tahun saat itu. Ketika pelecehan ini terjadi, Pell masih jadi imam Katedral St Patrick, Melbourne, Australia.

Pada September 2018 lalu, ia dinyatakan bebas dengan jaminan. Kasus ini dibuka kembali pada 11 Desember 2018.

Hakim Ketua Peter Kidd dalam sidang pra-putusan, pagi tadi, mengatakan ia sepakat dengan para juri yang menyatakan Pell bersalah atas lima dakwaan. Yakni, tindakan penetrasi dan empat pelecehan seksual.

Kidd menegaskan, Pell akan ditahan setelah sidang besok. Ia terancam hukuman penjara maksimal, yakni 50 tahun. "Tidak ada peluang Kardinal Pell untuk bebas," kata Hakim Kidd, seperti dikutip laman news.com.au, Selasa (26/2).

Pell, diapit petugas pengadilan dan polisi seusai sidang. Di luar gedung pengadilan, masyarakat membludak.

"Kau monster... terbakarlah kau di neraka, Pell," teriak seorang warga. "Kamu memalukan," yang lain menimpali.

Uskup Australia Dihukum Karena Tutupi Pelecehan Seksual Anak

Pell akan menjadi imam tertinggi yang pernah dihukum atas kasus pelecehan seksual. Ia dikenal sebagai pendukung Paus Fransiskus saat pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik lalu. Pell juga adalah bendahara Vatikan.

Kisah ini dimulai pada Desember 1996, ketika Pell memergoki kedua murid St Kevin’s College itu di kamar khusus imam di Katederal St Patrick Melbourne. Ia menuduh kedua bocah meminum anggur sakramen ekaristi.

Meski menolak tuduhan, Pell tetap memaksa mereka berjongkok di hadapannya. Ia lalu menaikkan jubahnya dan meminta keduanya bergantian mengoralnya.

Setelah itu, keduanya kembali bergabung dengan anggota paduan suara lainnya. Tapi setelah itu, Pell kembali memanggilnya dan melakukan penetrasi terhadap salah satu korban.

"Seperti umumnya para korban pelecehan seksual, saya mengalami depresi, terkucil, dan malu yang tak tertanggungkan," kata korban, yang kesaksiannya dibacakan oleh Jaksa Mark Gibson. Korban hanya diidentifikasi sebagai Michael.

Michael kini berusia 30 tahun. “Butuh bertahun-tahun untuk saya bisa keluar dari trauma," ia menambahkan.

Salah satu korban kemudian meninggal pada 2014 karena overdosis heroin, ia depresi atas pelecehan tersebut.

Ironisnya, sidang putusan juri ini berlangsung dua hari setelah Vatikan menggelar konferensi bersejarah membahas pelecehan seksual oleh para pendeta.

Dalam penutupan konferensi, Minggu (24/2), Paus Fransiskus menyatakan 'akan menangani setiap kasus pelecehan seksual di dalam gereja dengan penuh keseriusan'. Vatikan diperkirakan akan memecat Pell. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top