Pakar HAM PBB Kecam Pemakaian Ular dalam Interogasi Pencuri di Papua

publicanews - berita politik & hukumSam Lokon diinterogasi menggunakan ular di Mapolres Jayawijaya. (Foto: screenshot/YouTube)
PUBLICANEWS, New York - Pakar Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam penggunaan ular oleh polisi dalam menginterogasi pelaku jambret Sam Lokon di Mapolres Jayawijaya, Papua, beberapa waktu lalu.

"Kasus ini merefleksikan pola kekerasan yang menyebar, praktik penangkapan dan penahanan semena-mena, serta metode penyiksaan yang digunakan kepolisian dan militer Indonesia di Papua," begitu bunyi pernyataan yang dirilis Dewan HAM PBB, Jumat (22/2).

Kesimpulan itu disampaikan lima pakar independen untuk Dewan HAM PBB. Mereka adalah rapporteur PBB untuk hak suku asli Victoria Tauli Corpuz dan Seong-Phil Hong yang fokus pada isu penahanan semena-mena.

Kemudian pelapor PBB untuk situasi aktivis HAM Michel Forst, pakar bidang penyiksaan dan hukuman tidak manusiawi Nils Melzer, dan pelapor PBB untuk isu rasisme, diskriminasi rasial dan kekerasan E Tendayi Achiume.

Mereka mendesak investigasi imparsial terhadap dugaan penganiayaan, pembunuhan, penangkapan ilegal, dan perlakuan yang kejam dan tidak manusiawi TNI dan Polri terhadap warga asli Papua.

Para pakar menyebut insiden pemakaian ular bersifat simtomatis atas praktik diskriminasi dan rasisme terhadap warga asli Papua, termasuk dilakukan oleh kepolisian dan militer Indonesia.

Lilit Pejambret Pakai Ular, Oknum Polisi Diperiksa Propam

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, petugas kepolisian yang melakukan interogasi telah diberi sanksi. "Peristiwa itu dilakukan oleh individu dan bertentangan dengan peraturan serta regulasi Polri," ujarnya, siang ini.

Dalam video yang beredar, penyidik kepolisian melilitkan ular di tubuh Sam Lokon karena sebelumnya membantah sebagai pelaku pencurian handphone. Sam ketakutan dan berteriak-teriak dengan tangan terborgol.

Sang oknum mengacungkan kepala ular ke mukanya Sam lokon, yang akhirnya mengaku sudah dua kali mencuri handphone.

Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya telah meminta maaf atas kejadian itu. Ia menyebut ular yang dipakai jinak dan tak berbisa. Hal itu merupakan inisiatif sang penyidik.

"Kami telah melakukan tindakan tegas kepada personel dengan memberikan tindakan disiplin, seperti kode etik serta menempatkan di tempat yang khusus," ujar Toni beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui Sam Lokon merupakan anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Sebuah kelompok yang menyuarakan kemerdekaan Papua Barat. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top