Inggris

Wanita Inggris Tampar Petugas Imigrasi Bali, Keluarganya Malu

publicanews - berita politik & hukum Auj-e Taqaddas (43), wanita turis Inggris yang menampar petugas Imigrasi Bali. (Foto: Media Sosial)
PUBLICANEWS, London - Keluarga Auj-e Taqaddas (43), wanita turis Inggris yang menampar petugas imigrasi di Bali mengaku sangat malu atas ulah Taqaddas. Mereka menyebut aksi penamparan tersebut sebagai 'kejam'.

Ayahnya, pensiunan dokter yang dihormati, dan kakaknya yang ahli IT di London, Inggris, sudah melihat video ketika Taqaddas menampar petugas Imigrasi.

"Itu amat sangat memalukan. Liburan yang kejam," kata sang ayah, seperti ditulis The Sun, Kamis (7/2). Laman tabloid Inggris itu tidak menyebut nama sang ayah.

Di Inggris, wanita berdarah Pakistan itu punya catatan kepolisian cukup panjang. Ia dikenal agresif dan sering kehilangan kendali.

"Dia bekerja untuk Rumah Sakit Royal Marsden sekitar delapan atau sembilan tahun yang lalu. Ia seorang spesialis Radiografi," temannya bercerita.

Terakhir ia diketahui sedang menulis buku tentang penggunaan radiografi dalam pengobatan kanker. Dalam proses penulisan buku itulah ia mengalami gesekan dengan sejumlah koleganya.

"Beberapa saat kemudian dia meninggalkan Royal Marsden dan melakukan perjalanan keliling dunia. Saya pikir perselisihan dengan rumah sakit menyebabkannya harus mencari pekerjaan di luar Inggris," sang teman menjelaskan.

Ia setuju dengan julukan 'Dora the Explorer' yang diberikan warganet Indonesia kepada Taqaddas. Di London, wanita berambut pendek dan kerap membawa tas ransel di punggungnya --mirip tokoh film animasi anak-anak Dora-- itu tidak bisa diam. Sayangnya dalam pengertian yang negatif.

Keluarganya jarang menemui atau mengontak Taqaddas. "Mereka sedikit kontak dengannya selama beberapa tahun terakhir," sumber tersebut menambahkan.

Taqaddas ditangkap petugas Imigrasi Bandara Ngurah Rai pada Juli 2018 ketika hendak terbang ke Singapura. Ia diminta membayar denda atas kelebihan masa tinggal di Indonesia.

Tapi Taqaddas tidak pernah pergi ke pengadilan hingga sidang digelar pada Desember 2018. Rabu (6/2), hakim Pengadilan Negeri Denpasar memvonisnya 6 bulan penjara.

Ia mengamuk sambil menuding-nuding hakim seusai putusan. "Ini pengadilan palsu yang hanya mendengarkan jaksa penuntut kotor. Mereka tidak membawaku ke pengadilan selama enam bulan," kata Taqaddas dengan nada tinggi.

Petugas Imigrasi Bandara Ngurah Rai mencokok Taqaddas di mal untuk membawanya ke pengadilan. Namun, lagi-lagi, ia agresif dengan menendang dan memukul petugas.

"Dia berpura-pura tidak tahu bahwa dia sudah overstay," ujar Kepala Imigrasi Bandara Ngura Rai Aris Amran.

Majelis hakim menyatakan Taqaddas terbukti bersalah melakukan penamparan kepada petugas Imigrasi. Hakim juga menyebut Taqaddas emosional ketika diberi tahu soal overstay 3 bulan ketika di konter Imigrasi Bandara I Ngurah Rai.

Kantor Imigrasi mendenda 25 dolar AS untuk setiap hari dia tidak memperpanjang visanya. Taqaddas melampaui batas tinggal di Indonesia hingga 160 hari, denda akumulatifnya menjadi 4 ribu dolar AS, sekitar Rp 60 juta. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top