Tiongkok

Saya Ma Jian, Novelis Terlarang dan Bukan Mata-mata

publicanews - berita politik & hukumPelukis dan novelis Ma Jian, WN Inggris pelarian Tiongkok. (Foto: Twitter/@majian53)
PUBLICANEWS, Beijing - Pelukis dan novelis pelarian Tiongkok Ma Jian (65) bingung menjawab pertanyaan anak-anaknya setelah wajahnya tampil di berbagai media. Ma Jian baru saja dijatuhi hukuman seumur hidup atas tuduhan sebagai mata-mata yang korup.

Situasinya makin absurd karena ternyata ada dua Ma Jian. Orang pertama adalah Ma Jian kelahiran Shandong, Tiongkok, pada 18 Agustus 1953. Ia telah lama menjadi warga negara dan mukim di Inggris. Sedangkan Ma Jian yang dituduh sebagai kepala mata-mata yang korup adalah mantan Wakil Menteri Keamanan Tiongkok, kelahiran Jiangxi, pada September 1956.

Namun pemerintah Tiongkok, menurut laman South China Morning Post, menyebarkan foto Ma Jian yang novelis ketika mengumumkan penahanan Ma Jian (62) yang mata-mata.

"Ini bukan soal berita bahwa saya dituduh sebagai kepala spionase yang korup, tapi mereka kini juga 'mencuri' wajah saya," Ma Jian meluruskan kabar melalui akun Twitter @majian53, Jumat (28/12).

Pengadilan Rakyat Dalian, Tiongkok, kemarin memvonis seumur hidup terhadap mantan Wakil Menteri Keamanan Ma Jian. Ia dituduh korupsi dan melakukan inside trading.

Ma Jian yang satu ini dipecat dari posisinya pada 2015 lalu oleh Partai Komunis atas tuduhan indisipliner. Ia pernah memalsukan dokumen perjalanannya ke luar negeri bersama enam perempuan simpanan dan dua anak tidak sah.

Direktur Biro Nomor 8 Kementerian Keamanan, yang bertanggung jawab atas kegiatan kontra-spionase asing, mengatakan Ma menerima suap 109 juta Yuan, sekitar Rp 231 miliar, lewat transfer bank asing ketika ia pergi diam-diam ke luar negeri.

Partai juga mendapati Ma menerima 49,29 juta Yuan lainnya dari pengusaha Guo Wengui. Uang tersebut untuk mengurus kepentingan bisnis pengusaha yang diasingkan itu di China daratan.

Tapi mengapa Partai Komunis memasang foto Ma Jian yang novelis dalam rilis vonis penjara seumur hidup terhadap Ma Jian yang mata-mata?

Itulah pertanyaan pelukis Ma Jian. Kini ia harus menghadapi pertanyaan anak-anaknya, yang mengenal sang ayah sebagai penulis novel terkenal China Dream.

Ma Jian mendeskripsikan diri sebagai seorang ayah yang membuatkan pangsit rumput laut untuk makan malam keluarga. "Kini anak-anak saya menuduh ayahnya adalah mantan spymaster yang dihukum seumur hidup lantaran menerima suap yang sangat besar," ujar Jian dalam rangkaian tuit berbahasa Inggris.

"Apakah saya seorang novelis terlarang yang mimpi menjadi kepala spionase yang korup, atau apakah saya seorang kepala mata-mata yang korup yang bermimpi sebagai novelis terlarang?" ia merutuk.

Buku-buku Jian memang dilarang di Tiongkok setelah novel The Nine Crossroad dicap pemerintah sebagai menyebarkan 'polusi spiritual'. Novel itu menggambarkan perjalanan wartawan muda Tiongkok ke Tibet.

Jian adalah salah satu aktivis demonstran di Lapangan Tiananmen pada 1989, ia kemudian melarikan diri ke Hongkong sebelum pergi ke Inggris.

Baru-baru ini ia dilarang menghadiri festival sastra di Hongkong tanpa penjelasan. Ia terakhir kali menginjakkan kaki ke China daratan lagi pada enam tahun lalu saat menghadiri pemakaman ibunya.

Dokumen-dokumen imigrasinya ditanda tangani oleh tiga pejabat, termasuk Wakil Menteri Keamanan Ma Jian. "Ini absurd kan, Ma Jian menandatangani dokumen Ma Jian," ujar Jian.

Hingga berita ini ditulis, belum ada ralat dari otoritas Tiongkok soal 'insiden salah foto' tersebut. Atau mungkin tidak akan pernah ada ralat. Di Negeri Tirai Bambu itu, tidak ada yang tidak absurd, agaknya. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top