Pengkritik Gaun Miss Thailand Terancam 5 Tahun Penjara

publicanews - berita politik & hukumMiss Universe Thailand 2018 Sophida Kanchanarin. (Foto: Bangkok Post)
PUBLICANEWS, Bangkok - Di Thailand juga berlaku adagium 'jangan pernah mengkritik penguasa'. Di bawah aturan Lèse-Majesté Law, setiap orang boleh melaporkan orang lain yang diduga melanggar 'keagungan penguasa'.

Kali ini korbannya adalah warganet populer Wanchaleom Jamneanpho. Gara-garanya sepele, ia mengkritik gaun biru yang dikenakan Miss Thailand Sophida Kanchanarin sebagai tidak pantas. Sophida mengenakan gaun tersebut pada ajang Miss Universe 2018 di Bangkok, pekan lalu,

Asal Anda tahu, gaun tersebut rancangan Putri Srivannavari Nariratana, putri Raja Maha Vajiralongkorn. Dan itulah perkara sebenarnya.

Adalah Kitjanut Chaiyosburana, pengusaha dan politisi, yang melaporkan Jamneanpho pada polisi, Rabu (19/12). Ia melihat komentar Jamneanpho di Facebook sebagai pencemaran nama baik keluarga raja.

Juru Bicara Polisi Siber Thailand Kolonel Siriwat Deepor mengatakan, polisi segera menyelidiki kasus ini. Jamneanpho pun buru-buru meminta maaf dan menghapus unggahan tersebut.

"Yang Mulia Sirivannavari Nariratana, saya Wanchaleom Jamneanphol, tidak memiliki niat untuk menghina atau melecehkan keagungan keluarga kerajaan," tulis Wanchaleom, seperti dikutip laman Bangkok Post, Kamis (20/12). "Saya merasa sangat bersalah dan menyesal atas apa yang telah terjadi," wanita itu menambahkan.

Polisi dapat meneruskan pengaduan tersebut ke jaksa dengan tuduhan pelanggaran terhadap UU Kejahatan Komputer, semacam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE) di Indonesia. Ancaman hukuman maksimalnya 5 tahun penjara dan denda karena menyebarkan kabar palsu serta mengganggu keamanan nasional.

Jamneanphol juga bisa terancam hukuman hingga 15 tahun jika pasal yang digunakan adalah penghinaan terhadap monarki atau lèse-majesté. UU ini sudah ada sejak 1908, dan semakin ditegakkan ketika militer Thailand mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 2014 lalu.

Kritikus mengatakan, beleid tersebut sering digunakan untuk membungkam kebebasan berbicara. Perserikatan Bangsa Bangsa telah berulang kali menyerukan agar rezim militer Thailand mengamandemen UU tersebut, tapi tidak digubris.

UU Kejahatan Komputer secara ketat mengontrol apa yang orang Thailand boleh dan tidak boleh posting di media sosial.

Pelapor Kitjanut berdalih ia ingin melindungi reputasi negara dan Kerajaan. "Seringkali orang membuat komentar yang ceroboh dan hanya berakhir dengan permintaan maaf," ujarnya.

Kitjanut dan Jamneanphol sebenarnya sama-sama tokoh populer di komunitas LGBT online Thailand. Jamneanphol adalah wanita transgender dengan lebih dari 500 ribu pengikut di Facebook, sedangkan Kitjanut merupakan pria transgender dengan 400-an ribu member.

Kitjanut mengatakan, ia tidak ingin mengkritik sesama LGBT karena orang-orang di luar sudah memiliki pandangan negatif terhadap mereka. Ia melaporkan kawannya itu demi melindungi komunitas LGBT dari pandangan yang lebih negatif lagi lantaran kritik Jamneanphol tersebut.

"Dia adalah influencer dengan banyak pengikut. Jadi dia harus memberi contoh yang baik untuk orang lain," Kitjanut menjelaskan.

Sang desainer Nariratana (31) adalah putri tunggal Raja Vajiralongkorn dan mantan permaisuri Sujarinee Vivacharawongse. Wanita dengan tinggi 155 cm itu merupakan pendiri dan direktur kreatif rumah mode Sirivannavari.

Ia kerap tampil di halaman-halaman majalah Tatler dan Vogue. Nariratana secara luas digambarkan sebagai 'anggota kerajaan paling modis' Thailand. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top