Pengadilan Tolak Pembebasan Bersyarat Pembunuh John Lennon

publicanews - berita politik & hukumIkon The Beatles John Lennon membubuhkan tanda tangan pada album 'Double Fantasy' yang disodorkan Mark David Chapman (kanan). Lima jam kemudian, Chapman menembaknya di depan apartemen, pada 8 Desember 1980. (Foto: UPI/Files)
PUBLICANEWS, New York - Masih ingat Mark David Chapman? Kemarin, pengadilan menolak permohonan pembebasan bersyarat pembunuh ikon The Beatles dan musik rock John Lennon itu.

Dalam keputusannya, Dewan Pembebasan Bersyarat atau Board of Parole menyatakan, melepaskan Chapman yang kini berumur 63 tahun itu hanya akan memperlihatkan pengadilan seolah tidak memandang serius kejahatannya.

"Juga akan membahayakan keselamatan publik karena seseorang mungkin mencoba melukainya lantaran dendam, atau mencari ketenaran seperti saat Chapman menembak Lennon," kata pernyataan pejabat penjara New York, Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters, Jumat (16/11).

Sidang penolakan pembebasan bersyarat Chapman ini yang ke sepuluh kali, sejak ia mengajukannya pada 2000 lalu. Dewan menyatakan Chapman boleh mengajukan lagi pada 2020 mendatang atau setahun sebelum ia bebas dari masa hukuman 20 tahunnya.

Dalam nota pembelaannya, Chapman menyatakan ia dihantui penyesalan dan rasa malu abadi setelah menembak Lennon di luar apartemennya di Manhattan, New York, pada 8 Desember 1980 malam.

"30 tahun lalu saya tidak dapat mengatakan bahwa saya merasa malu, saya merasakannya sekarang," ujar Chapman.

Pada sore itu Lennon memberinya tanda tangan saat ia menyodorkan album terbaru Double Fantasy. Setelah itu Lennon pergi makan malam bersama sang kekasih Yoko Ono. Chapman menunggu lima jam di pinggir jalan depan apartemen di Upper West Side Manhattan sambil membaca novel The Catcher in the Rye karya JD Salinger.

Anak sersan Angkatan Laut dari Texas itu sempat berdoa sebelum menyongsong Lennon yang pulang. Chapman, 25 tahun ketika itu dan baru menikah, awalnya sempat ragu. Namun pada akhirnya dorongan untuk memperoleh ketenaran lebih kuat.

"Saya terlalu jauh," katanya dalam transkrip sidang yang dirilis ke media. "Aku ingat pernah berpikir, 'Hei, kamu sudah punya album sekarang. Lihat ini, dia menandatanganinya. Pulang saja'. Tapi tidak mungkin aku akan pulang," Chapman menuturkan.

Padahal, penganut Kristen Perbesterian itu mengaku tidak punya masalah dengan penyanyi asal Livepool, Inggris, tersebut. Tapi ia menyiapkan pistol dan memastikan membidik Lennon tepat di titik-titik yang mematikan. "Agar ia tidak menderita," kata Chapman. Ia masih ingin bertemu Lennon di surga nanti.

Kini Chapman menghabiskan waktu menjadi petugas pembersih penjara Wende, di timur Buffalo, New York. Ia juga melukis dan membereskan lantai dari ceceran lilin tempatnya berdoa setiap malam.

"Saya akan tetap merasa sakit, bahkan setelah aku mati nanti," ujarnya. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top