Pasangan Lesbian Malaysia Dihukum Cambuk Enam Kali

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
PUBLICANEWS, Kuala Terengganu - Dua perempuan yang divonis bersalah melakukan hubungan sesama jenis akhirnya dihukum cambuk enam kali oleh Pengadilan Tinggi Syariah Kuala Terengganu, Malaysia, Senin (3/9).

Hukuman langsung dilakukan di balik pintu tertutup di ruang sidang setelah Hakim Tinggi Kamalruazmi Ismail menjatuhkan vonis. Hukuman cambuk ini juga disaksikan oleh Ketua Pengadilan Syariah Wan Mohd Zakri Wan Mohd dan hakim senior syariah Rosdi Harun.

Terdakwa, yang hanya diidentifikasi sebagai wanita 22 dan 32 tahun, dibawa ke sebuah bangku. Kemudian dua perempuan petugas Lapas Wanita Kajang melakukan hukuman secara bergiliran.
 
Wanita yang lebih muda menangis ketika petugas memukulnya dengan batang rotan. Pukulan terhadap gadis muda itu 'lebih keras' dibanding teman lesbinya yang lebih tua.

Di Malaysia, hukum cambuk syariah tidak sama dengan cambuk sipil, karena tidak dimaksudkan untuk menyakiti. Petugas tidak boleh mengayunkan tongkat rotan dari atas kepala. Ayunan cambuk juga tidak boleh kencang, yang sedang-sedang saja.

Hukuman cambuk ini berlangsung selama 6 menit.

Peninjau dari Asosiasi Pengacara Syariah Terengganu dan Dewan Pengacara Negara mengatakan, mereka puas atas eksekusi cambuk syariah.

"Itu tidak untuk menyiksa dan kami puas karena prosedur yang tepat di mana cambuk tidak merusak kulit," kata Wakil Direktur Asosiasi Pengacara Syariah Terengganu Fazru Anuar Yusof, seperti dikutip The Star, Senin (3/9).

Sementara itu, Ketua Dewan Pengacara Terengganu Sallehudin Harun menyatakan ia akan menyiapkan laporan singkat tentang hukuman cambuk kepada asosiasi.

"Apa yang terjadi hari ini akan memberi gambaran nyata bagaimana hukum cambuk syariah," ujar Sallehudin.

Sallehudin mengira hukuman cambuk ini menyakitkan terdakwa, ternyata tak seseram yang ia duga. "Setelah melihatnya hari ini, saya percaya Pengadilan Syariah dalam cahaya yang positif dan masalah ini tidak boleh dibesar-besarkan," ia menambahkan.

Dalam sidang 12 Agustus lalu, Pengadilan Tinggi Syariah mendenda kedua perempuan sebesar 3.300 Ringgit atau sekitar Rp 11,9 juta. Hakim juga memerintahkan agar mereka masing-masing dicambuk enam kali setelah terbukti melakukan musahaqah (hubungan seksual sesama jenis).

Vonis tersebut mengundang kemarahan Suhakam, Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. Dalam sebuah pernyataan pada 15 Agustus, Suhakam menggambarkan hukuman itu sebagai memalukan dan merendahkan.

Amnesty International Malaysia juga menyerukan kepada pemerintah untuk mencabut undang-undang yang memberlakukan hukuman bagi komunitas yang terpinggirkan.

Sedianya eksekusi cambuk dilakukan pada 28 Agustus lalu, namun baru bisa dilaksanakan hari ini. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top