Myanmar

Dua Jurnalis Peliput Pembunuhan Massal Rohingya Dihukum 7 Tahun

publicanews - berita politik & hukumKyaw Soe Oo usai menjalani sidang vonis 7 tahun penjara di Myanmar, Senin (3/9). (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Yangon - Dua jurnalis kantor berita Reuters yang meliput kasus pembunuhan massal warga Rohingya dihukum 7 tahun penjara. Keduanya adalah Wa Lone (32) dan Kyaw Soe Oo (28). Mereka divonis hakim distrik Utara Myanmar Ye Lwin.

Alasan hakim yaitu soal kepemilikan dokumen rahasia negara. "Para terdakwa telah melanggar bagian Rahasia Resmi Act 3.1.c, dan dijatuhi hukuman tujuh tahun," kata hakim Ye Lwin, seperti dikutip Reuters, Senin (3/9).

Pertimbangan hakim mengatakan dokumen yang dipegang kedua jurnalis itu sebagai 'dokumen rahasia' yang bisa digunakan musuh negara dan organisasi teroris. "Dokumen yang ditemukan dalam ponsel tersebut bukan sebagai informasi publik," ujar hakim.

Usai sidang, Wa Lone memberi tahu pendukungnya agar tidak khawatir. Dengan tangan diborgol dan diapit polisi ia menegaskan tidak bersalah.

“Kami tahu apa yang kami lakukan. Kami tahu kami tidak melakukan kesalahan. Saya tidak takut. Saya percaya pada keadilan, demokrasi, dan kebebasan," katanya tegas.

Hal senada disampaikan Kyaw Soe Oo. Ia mengatakan apa yang ia lakukan adalah mempertahankan perjuangan untuk kebebasan pers.

"Apa yang ingin saya katakan kepada pemerintah adalah Anda dapat memasukkan kami ke penjara, tetapi jangan menutup mata dan telinga orang-orang," kata Kyaw.

Keputusan itu dibacakan dalam sidang yang dihadiri sekitar 50 orang, sebagian besar merupakan wartawan. Beberapa pengunjung meneteskan air mata mendengar putusan hakim tersebut.

Istri Kyaw Soe Oo, Chit Su Win, menangis setelah vonis, dan anggota keluarga harus memapahnya meninggalkan ruang sidang. Kyaw baru memiliki anak yang berusia 3 tahun dan dipisahkan setelah ia ditangkap pada 12 Desember 2017 lalu.

Bahkan, Wa Lone yang dipenjara tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertamya. Istrinya Pan Ei Mon baru melahirkan bulan lalu.

Hukuman 7 tahun ini menyulut kecaman banyak negara. Duta Besar AS Scot Marciel yang menghadiri sidang mengatakan ia sedih atas putusan tersebut.

"Ini sangat mengganggu. Putusan ini mengurangi kepercayaan rakyat Myanmar terhadap sistem peradilan mereka," ujar Marciel kepada wartawan.

Duta Besar Inggris Dan Chugg berbicara atas nama anggota Uni Eropa, mengatakan putusan itu telah membuat pukulan terhadap aturan hukum.

"Hari ini adalah hari yang menyedihkan bagi Myanmar, wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, dan pers di mana-mana," kata kepala editor Reuters Stephen J Adler dalam pernyataannya.

“Kami tidak akan menunggu ketika Wa Lone dan Kyaw Soe Oo menderita ketidakadilan ini dan akan mengevaluasi bagaimana untuk melanjutkan dalam beberapa hari mendatang, termasuk apakah mencari pertolongan di forum internasional,” Adler menambahkan.

Dokumen rahasia yang dijadikan dasar hakim memenjarakan kedua jurnalis sebenarnya berasal dari aparat kepolisian setempat. Mereka bertemu dengan polisi tersebut di sebuah restoran di ibukota Yangon. Namun, tidak berapa lama kemudian polisi lain datang dan menangkap kedua jurnalis itu.

Jebakan itu menyusul upaya kedua jurnalis itu membongkar pembunuhan 10 pria dan anak laki-laki Rohingya di Inn Din, sebuah desa di Negara Bagian Rakhine. Pembunuhan itu diduga melibatakan aparat berwajib Myanmar.

Sebuah misi pencarian fakta mengungkapkan militer Myanmar melakukan pembunuhan itu disertai pemerkosaan. Bahkan, militer berniat melakukan pembunuhan massal dan gonosida terhadap muslim Rohingya.

Diketahui tak kurang 700 ribu warga Muslim Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan telah melarikan diri melintasi perbatasan Myanmar barat dengan Bangladesh.

Pengadilan Pidana Internasional sedang mempertimbangkan apakah mereka memiliki yurisdiksi atas peristiwa di Rakhine. Sementara itu, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Kanada telah memberi sanksi kepada militer dan polisi Myanmar atas tindakan keji tersebut. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top