Jenderal Iran Tuduh Israel Curi Hujan

publicanews - berita politik & hukumBendera Israel terlihat ditempatkan di Gunung Bental di Dataran Tinggi Golan yang dicaplok Israel. (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Teheran - Komandan Pengawal Revolusi Iran Brigjen Gholam Ridha Jalali menuduh Israel telah mencuri awan yang seharusnya mencurahkan hujan di dataran Iran.

Jalali mengatakan hal itu dalam konferensi pertanian di Teheran. Ia mengutip penelitian ilmiah Iran meski tidak menyebut sumbernya.

Dilansir dari Independent, Kamis (5/7), Jalali menyebut adanya konspirasi Israel dan negara lain telah membuat hujan dan salju tidak turun di Iran.

Padahal, katanya, seluruh pegunungan dengan tinggi lebih dari 2.200 meter antara Afghanistan dan Mediterania diselimuti salju.

"Israel dan negara lain di kawasan telah bergabung untuk memastikan awan tidak masuk ke langit Iran sehingga tidak bisa menciptakan hujan," ujar Jalali. "Kita sedang menghadapi pencurian awan dan salju," ia menambahkan.

Menurutnya, Israel memperparah masalah kekurangan air Republik Islam itu dengan 'mencuri hujan' dari awan yang melewati Laut Mediterania. Israel dan negara lain tersebut, katanya, mengekstrak kelembaban cuaca saat bergerak melintasi Mediterania.

Akibatnya, berubah menjadi awan tandus dan menghilangkan hujan dan salju yang seharusnya mencapai dataran tinggi Iran sebagaimana mestinya.

Pernyataan Jalali dibantah Ahad Vazife, Direktur Jenderal organisasi meteorologi resmi Iran. Ia menyebut tidak mungkin bagi negara mana pun untuk mencuri hujan atau awan.

Komentar Jalali sebenarnya ditujukan untuk meredam beberapa protes di Iran barat daya atas kesalahan pengelolaan kelangkaan air dan kegagalan untuk menangani tingkat polusi di musim panas yang menyengat. Akibat protes itu, puluhan orang di kota Muhammarah dan Abadan ditangkap.

Teori Jalali ini pernah disuarakan di masa Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Dalam suatu pidato pada 2012, Ahmadinejad menyalahkan musuh bebuyutannya Israel sebagai biang memburuknya cuaca Iran.

"Musuh menghancurkan awan yang bergerak ke negara kita," kata Ahmadinejad, saat itu. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top