Sheikha Latifa, Putri Penguasa UEA Disiksa dan Ditahan?

publicanews - berita politik & hukumSheikha Latifa (32), putri PM dan Wakil Presiden UEA Mohammad al-Maktoum. (Foto: AP)
PUBLICANEWS, Dubai - Human Rights Watch (HRW) meminta otoritas Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengungkapkan keberadaan Sheikha Latifa (32), putri Perdana Menteri dan Wakil Presiden Mohammad al-Maktoum. Sudah tiga bulan ini Latifa menghilang.

Kelompok pegiat HAM tersebut mengatakan, kegagalan untuk mengungkap keberadaan Latifa akan mengkonfirmasi dugaan 'penghilangan paksa'. HRW memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Latifa ditahan pihak berwenang UAE.

Belum ada komentar pejabat UEA atas tuduhan tersebut. Sebuah sumber yang dekat dengan pemerintah Dubai mengatakan, 'Latifa aman dan sehat dengan keluarganya' tetapi menolak berkomentar lebih lanjut karena pertimbangan keamanan.

UAE juga belum berkomentar mengenai laporan media baru-baru ini yang menyebut Latifa telah mengirimkan video secara tersembunyi. Dalam video tersebut, ia mengatakan melarikan diri karena ada ancaman dari keluarganya.

Sebuah laporan menyebutkan, Latifa melarikan diri dengan bantuan teman-temannya dengan kapal pesiar milik warga negara Perancis. Namun kapal itu kemudian dicegat di lepas pantai India.

"Seorang saksi mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa otoritas UEA mencegat Sheikha Latifa pada tanggal 4 Maret 2018, ketika dia mencoba melarikan diri melalui laut ke negara ketiga. Otoritas UEA kemudian memulangkannya ke UEA," kata pernyataan HRW, seperti dikutip Reuters, Senin (7/5).

Dua teman Latifa yang disembunyikan identitasnya mengatakan bahwa Latifa dalam tahanan keluarga penguasa UEA tersebut. "Dia harusnya diberi hak-haknya sebagai tahanan, termasuk dibawa ke hadapan hakim independen," kata sumber tersebut.

Teman Latifa lainnya, WN Finlandia bernama Tiina Jauhiainen yang berada di kapal pesiar tersebut mengatakan, ada tiga kapal perang India dan empat kapal perang UEA terlibat dalam penyergapan yacht mereka.

Pada 22 Maret, ujar Jauhiainen, pihak berwenang UAE mengizinkannya kembali ke Finlandia. Begitu pula dengan Herve Jaubert sang pemilik kapal. Jaubert adalah mantan mata-mata Perancis.

Pelarian Latifa ini berlangsung di tengah-tengah konflik UEA bersama sekutunya Arab Saudi, Bahrain, dan Mesir untuk melahawan Qatar. Tapi tidak jelas apa sesungguhnya yang telah diperbuat Latifa.

Latifa adalah anak dari salah satu istri Mohammad al-Maktoum. Menurut kesaksian teman-temannya, ia telah merencanakan lari sejak delapan tahun lalu dan meminta suaka di salah satu negara Eropa. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top