Pengadilan Hongkong Tolak Banding Pembunuh Dua TKI

publicanews - berita politik & hukumSeneng Mujiasih (26), satu dari dua TKI yang diperkosa dan kemudian dibunuh oleh Rurik Jutting. (Foto: Twitter)
PUBLICANEWS, Hongkong - Pengadilan Tinggi Hongkong menolak banding yangg diajukan Rurik Jutting (32), terpidana seumur hidup kasus pembunuhan dua tenaga kerja Indonesia (TKI).

Pria Inggris mantan bankir Merrill Lynch itu pernah ditolak bandingnya dalam kasus pembunuhan Sumarti Ningsih (23) dan Seneng Mujiasih (26) pada Februari 2018. Kemarin, Jutting mengajukan permohonan ke pengadilan yang sama untuk membawa kasusnya ke Court of Final Appeal atau Pengadilan Banding Final.

Dalam sidang Rabu (11/4), Pengadilan Banding juga menolak permohonan tersebut. Hakim mengatakan, permohonan Jutting tidak menyangkut kepentingan umum, syarat utama untuk maju ke Court of Final Appeal dalam sistem hukum Hongkong.

Jutting dipenjara seumur hidup pada 8 November 2016, setelah sembilan anggota juri dengan suara bulat menyatakan ia bersalah atas pembunuhan disertai pemerkosaan terhadap Sumarti dan Seneng.

Pembunuhan terjadi di apartemen Jutting di kawasan lampu merah Wan Chai, pada November 2014. Alumnus Universitas Cambridge, Inggris, itu menyiksa Sumarti selama tiga hari dengan 'kekerasan dan sadistis menggunakan ikat pinggangnya, mainan seks, sepasang tang, dan sejumlah pukulan'.

Jutting mengakhiri penganiayaan tersebut dengan menggorok leher Sumarti menggunakan pisau bergerigi. Ia memutilasi TKI asal Cilacap, Jawa Tengah, itu lalu memasukkan ke dalam koper.

Pembunuh TKI di Hongkong Meniru Film 'American Psycho'

Sehari kemudian, ia membunuh Seneng dengan cara yang hampir sama, untuk melampiaskan fantasi seks liarnya. Seneng sering disebut sebagai pekerja bar dan panti pijat dengan nama Jesse Lorena.

Pengacara Jutting mengajukan banding dengan dua alasan. Pertama, ia menuduh hakim tingkat pertama telah mengarahkan kesembilan juri untuk bulat menyatakan kliennya bersalah.

Kedua, apakah tepat hakim mendasarkan putusannya pada keterangan psikiater yang menyebut Jutting memiliki fantasi sadistis. Seharusnya kesimpulan psikis tersebut diputuskan oleh dewan juri.

Namun, dalam sidang kemarin, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Hongkong Hakim Agung Michael Lunn, Hakim Andrew Macrae, dan Hakim Pengadilan Tingkat Pertama Kevin Zervos mengatakan bahwa tidak ada yang salah dalam putusan tingkat pertama.

"Dengan demikian tidak ada poin hukum yang layak ditangani oleh Pengadilan Tinggi," kata putusan pengadilan, seperti dikutip South China Morning Post, Kamis (12/4) pagi. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top