Kisah Perempuan Aljazair

Inggris Bukanlah Surga Pencari Suaka

publicanews - berita politik & hukumRadhia Mohammed El Hadj, pencari suaka dari Aljazair, dan anaknya di flat penampungan di Middlesbrough, Inggris. (Foto: Evening Gazette)
PUBLICANEWS, Middlesbrough - Ketika lima tahun lalu melarikan diri dari Aljazair untuk mencari suaka, Radhia Mohammed El Hadj (39) mengira Inggris adalah surga. Ia meninggalkan negaranya karena kemiskinan dan menghadapi ancaman pembunuhan lantaran lari dari pria yang dijodohkan keluarga.

Namun kini hampir setiap malam Radhia menangis. Ia tidur di lantai, sementara anaknya Anais Boubeker (4) di atas ranjang sempit. Pemerintah Inggris menempatkan Radhia di sebuah flat sederhana di Middlesbrough.

"Kualitas hidup di sini lebih buruk, ini membunuh saya," kata Radhia kepada Gazette Live, seperti dikutip The Mirror, Jumat (9/3) pagi waktu Indonesia.

Radhia berbagi ruangan dengan pencari suaka lainnya di flat tersebut, masing-masing menempati kamar berukuran 3x4 meter. Itulah ruang privatnya.

Flat itu dilengkapi dapur, ruang tamu, dan kamar mandi bersama. Sejak ditempatkan di situ pada Agustus 2017, ia mengalami tiga kali berganti 'room mate'. Semuanya asing.

Anaknya Anais menderita anemia. Setiap hari Radhia mengajarinya membaca, menemani nonton televisi, membereskan kamar. Punggungnya juga sakit karena tidur di lantai tanpa alas dan selimut.

Jendela kamarnya berlubang sehingga udara dingin bisa menerobos. "Pemanas ruangan mati secara otomatis pada tengah malam. Aku benar-benar membeku," ujarnya.

Radhia punya sertifikat sebagai penata rambut. Tapi tidak ada salon yang mau mempekerjakan pencari suaka. "Saya benar-benar terkunci di kamarku," ia mengeluh.

Saat tiba di London, ibukota Inggris, lima tahun lalu, G4S (lembaga swasta yang dikontrak Inggris untuk menangani pencari suaka dari Timur Tengah) menempatkan Radhia dari satu losmen ke losmen lain.

Semula ia mengira akan menemukan kedamaian dan cinta, seperti cerita-cerita yang ia lihat dari televisi. Anais, benih dari pria Aljazair itu, lahir saat Radhia nomaden. G4S kemudian memindahkannya ke Middlesbrough.

Bibinya yang sudah terlebih dahulu mengungsi ke London, mengucapkan selamat atas kepindahan tersebut. "Alhamdulillah kamu tidak akan menderita lagi. Kamu akan memiliki kehidupan yang menyenangkan. Kamu akan menemukan suami Inggris yang baik," kata Radhia menirukan ucapan sang bibi. '

"Tapi itu tidak pernah terjadi. Aku tidak pernah bahagia," kata Radhia. "Sekarang, aku takut, sungguh. Aku tidak tahu Inggris seperti ini. Ya Tuhan. Kupikir negeri ini adalah surga."

Satu-satunya mimpinya saat ini adalah punya kamar dengan tempat tidur sendiri. Dan tidak perlu membeku setiap malam. "Aku tidak butuh sesuatu yang lebih. Bekerja dan hidup bahagia dengan anak perempuan saya," ujarnya. "Saya memohon kepada Allah agar memiliki kebahagiaan."

Inggris merupakan salah satu negara Eropa yang jadi tujuan favorit imigran. Pada 2016, tercatat ada 30.603 imigran. Sebagian besar pencari suaka dari Timur Tengah dan Asia Selatan.

Home Office, badan yang antara lain bertanggung jawab terhadap imigran, memberi 'uang saku' kepada imigran sampai status mereka diputuskan. Orangtua tunggal dengan anak satu seperti Rhadia mendapat jatah 73,90 Poundsterling per pekan, atau hampir Rp 1,5 juta. Jika sorangan, uang sakunya 36,95 Pound. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top