Amerika Serikat

Tragedi Las Vegas Bukan yang Paling Mematikan

publicanews - berita politik & hukumSuasana pasca penembakan yang dilakukan oleh Stephen Paddock. (Foto: SFgate)
PUBLICANEWS, Washington DC - Tragedi Las Vegas yang menewaskan 59 orang disebut sebagai kasus penembakan paling buruk yang pernah terjadi di dalam sejarah Amerika Serikat. Pelakunya, Stephen Paddock, ternyata tidak hanya memiliki 23 senjata di kamarnya di Hotel Mandalay Bay.

"Dia juga memiliki sekitar 22 kilogram bahan peledak dan 1.600 amunisi di mobilnya di tempat parkir hotel," ujar polisi, seperti dikutip CNN, Kamis (5/10).

Menurut catatan, ada kasus pembunuhan massal yang lebih mengerikan daripada yang dilakukan oleh Paddock. Tokoh politik Carolina Utara, William Barber II, mengatakan, pembantaian orang Afrika-Amerika pada peristiwa pemberontakan Wilmington lebih mengerikan.

Barber menjelaskan, pada masa itu lebih dari setengah penduduk Kota Wilmington, Negara Bagian Carolina Utara, adalah seorang Afrika-Amerika. Warga Afrika-Amerika yang duduk di pemerintahan lebih banyak dibandingkan saat ini.

"Mereka telah membuat peraturan tentang pendidikan sebagai hak warga walaupun pada masa itu negara belum membuat UU seperti itu," kata Barber seperti dikutip Democracy Now, Rabu (4/10).

"Mereka bahkan telah membuat peraturan tentang persamaan hak yang nantinya masuk dalam Amandemen ke-14 Kontitusi Amerika Serikat," ia menambahkan.

Charles B. Aycock, yang kemudian menjadi Gubernur Carolina Utara, melakukan propaganda. Terjadi eskalasi ketegangan dan terjadilah peristiwa Wilmington pada 10 November 1898. "Mereka selalu mendengungkan bahwa orang Afrika-Amerika adalah ancaman untuk orang kulit putih," Barber menjelaskan.

Diperkirakan lebih dari 60 orang Afrika-Amerika dibunuh, rumah mereka dibakar dan tanah mereka diambil begitu saja. "Pada saat itu mereka menggunakan gatling gun untuk menembaki para korban," kata Barber. "Bahkan, jumlah korban yang sebenarnya tidak pernah diketahui hingga saat ini," ia menegaskan.

Setelah menggulingkan pemerintahan yang sah, mereka mengangkat orang-orang kulit putih untuk mengisi tampuk pemerintahan yang kosong tersebut. Para pemberontak itu bahkan mengirimkan telegram ke kota lain di Negara Bagian Carolina Utara, yang berisi pesan 'Ini adalah cara untuk mengembalikan kekuasaan'.

"Ketakutan itu terus mengahantui para pemilih hingga dibutuhkan waktu selama 90 tahun, baru ada anggota Kongres keturunan Afrika-Amerika yang berasal dari Carolina Utara." ia menandaskan. (m-01)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Abi 97 @abi9706 Oktober 2017 | 21:15:29

    Sejarah penuh tragedi menjadi konsekwensi di negeri yg penuh senjata api.

Back to Top