Korupsi Bansos Covid-19

Penyuap Juliari Batubara Tuding Broker yang Berperan Aktif

publicanews - berita politik & hukumDirut PT Tigapilar Argo Utama Ardian Iskandar mengikuti sidang pembacaan tuntutan secara virtual, 19 April 2021. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Direktur Utama PT Tigapilar Argo Utama Ardian Iskandar Maddanatja menuding pihak broker yang memiliki peran aktif dalam pengadaan paket bantuan sosial Covid-19 di Kemensos. Tiga pilar adalah perusahaan rekanan pengadaan bansos di Kemensos.

Hal tersebut diungkap Ardian saat membacakan nota pembelaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (26/4). Ia, misalnya, mengatakan broker tersebut menemui Direktur Jenderal Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos) Pepen Nazaruddin serta kedua pejabat pembuat komitmen (PPK) yang juga menjadi terdakwa.

"Perkenankan saya menyampaikan kembali fakta yang dijelaskan oleh saksi-saksi dalam persidangan perkara saya ini, dimana sangat jelas terungkap bahwa sejak awal yang sangat aktif dalam berkomunikasi baik dengan sudara Pepen Nazaruddin selaku Dirjen Linjamsos dan yang memiliki akses komunikasi dengan sudara Adi Wahyono maupun saudara Matheus Joko Santoso adalah saudari Nuzulia Hamzah Nasution, saudara Helmi Rivai, dan saudara Isro Budi Nauli Batubara," ujar Ardian.

Ia melimpahkan kesalahan pada para broker karena telah menjadi otak yang merencanakan sampai dengan mendapatkan Surat Penunjukkan Penyedia Barang dan Jasa (SPPBJ) dan Surat Pesanan (SP) dari Kemensos tanpa melibatkannya sama sekali. Ardian mengaku baru dilibatkan oleh broker saat SPPBJ dan SP yang terbit ternyata atas nama PT Tigapilar Agro Utama yang ia harus tandatangani.

Padahal, menurutnya PT Sambas Investama adalah perusahaan yang diajukan oleh broker. Ardian mengaku kemudian diminta fee oleh Matheus pada April-Mei 2020, sementara perusahaannya memulai pekerjaan pada September 2020.

Ardian menegaskan tidak pernah menjanjikan sesuatu kepada Matheus dan Adi. Ia juga menyebut tidak mengenal sosok Mensos Juliari Peter Batubara saat itu.

"Saya juga tidak pernah mengetahui dan tidak pernah dijelaskan oleh Nuzulia Hamzah Nasution, Isro Budi Nauli Batubara dan Helmi Rivai tentang pembagian success fee Rp 30 ribu perpaket untuk siapa saja. Saya menyerahkan fee tersebut kepada broker bansos, bahkan mereka masih menekan saya meminta tambahan fee Rp 5 ribu per paket," Ardian menjelaskan.

Dalam nota pembelaannya itu Ardian berharap majelis hakim memutus perkara ini secara adil. Ia mengakui dan menyesali perbuatannya. Akibat mengikuti perintah broker ia terseret dalam pusaran pidana korupsi.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ardian dengan penjara empat tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Jaksa meyakini Ardian menyuap Rp 1,9 miliar untuk memuluskan penunjukan perusahaannya penyedia paket bansos di wilayah Jabodetabek 2020. (han)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo28 April 2021 | 05:03:00

    Mulai pada bngeles.... saling tunjuk. 😁

Back to Top