MA Bebaskan Lucas, KPK Akan Cek

publicanews - berita politik & hukumLucas saat masih menjalani pemeriksaan di KPK. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mahkamah Agung (MA) Amengabulkan upaya hukum peninjauan kembali (PK) yang diajukan Lucas, pengacara yang terjerat kasus merintangi penyidikan KPK terhadap mantan petinggi Lippo Group Eddy Sindoro.

"Amar putusan, kabul," demikian dikutip dari situs kepaniteraan MA, Kamis (8/4).

Perkara PK Lucas teregistrasi dengan nomor: 78 PK/Pid.Sus/2021. Vonis itu diketok pada Rabu (7/4) kemarin. Duduk sebagai majelis hakim yakni Salman Luthan dengan anggota Abdul Latief dan Sofyan Sitompul. 

Penasihat hukum Lucas, Aldres Napitupulu, membenarkan putusan tersebut. Namun saat ini tim penasihat hukum masih menunggu petikan putusan dari MA. 

"Seharusnya bebas. Cuma kami masih menunggu petikan resmi," kata Aldres.

Aldres meminta agar KPK segera menjalankan amar putusan MA itu dengan membebaskan kliennya.

"Harusnya artinya dia bebas, karena PK dikabulkan. Kami akan bersurat ke KPK, agar KPK laksanakan dulu salah satu amar putusan, yakni mengeluarkan Lucas dari lapas," Aldres menambahkan.

Dalam memori PK-nya, Lucas meminta agar Majelis Hakim PK menyatakan ia tak terlibat tindak pidana sebagaimana dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum pada KPK. Lucas juga meminta nama baik dan harkat martabatnya dipulihkan serta direhabilitasi. Ia juga meminta agar segera dikeluarkan dari Lapas Tangerang. 

Menanggapi putusan PK tersebut, Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri menyatakan akan mengecek terlebih dahulu dan melakukan koordinasi dengan MA.

"Kami akan cek dan koordinasikan lebih dahulu dengan pihak MA," ujar Ali melalui rilisnya.

Saat ini KPK masih menunggu amar putusan lengkapnya, apakah benar membebaskan pemohon PK sebagaimana informasi yang beredar.

"Perkembangannya akan kami informasikan lebih lanjut," kata Ali.

Lucas divonis bersalah dan terbukti merintangi penyidikan kasus Eddy Sindoro. Hakim Pengadilan Tipikor menyatakan Lucas terbukti menyarankan Eddy agar tidak menyerahkan diri kepada KPK serta mengubah status WNI dan paspornya.

Saat itu, Eddy sedang dideportasi dari Malaysia, bersama anaknya Michael Sindoro dan Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie. Ketiganya menumpang pesawat AirAsia saat dideportasi dari Malaysia karena Eddy menggunakan paspor palsu.

Pada pengadilan tingkat pertama, Lucas divonis 7 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Di tingkat banding vonisnya dipotong menjadi 5 tahun penjara.

Selain memotong hukuman Lucas, hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta juga memerintahkan KPK membuka rekening Lucas, di antaranya di Bank Panin, Bank Dana Investor, CIMB Niaga, Bank Jabar Banten, BCA dan Bank Mandiri.

Lucas kemudian mengajukan kasasi dan vonis kembali dipotong menjadi 3 tahun oleh MA. Hingga akhirnya Lucas dan tim penasihat hukum mengajukan PK dan dikabulkan kembali oleh MA. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top