KPK Setorkan Cicilan Uang Pengganti Eni Saragih Rp 925 Juta ke Negara

publicanews - berita politik & hukumEni Maulani Saragih (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jaksa Eksekusi KPK Rusdi Amin kembali melakukan penyetoran ke kas negara cicilan uang pengganti dari terpidana Eni Maulani Saragih pada Senin (5/4). Jumlah yang disetor adalah Rp 925.176. Hal ini berdasarkan putusan Pengadilan Tipikor Jakarta Nomor: 100/Pid.Sus/TPK/2018/PN.Jkt Pst tanggal 1 Maret 2019.

"Terdiri dari cicilan ketiga sejumlah Rp 500 juta dan cicilan uang pengganti keempat sejumlah 40 ribu dolar Singapura (senilai Rp 425.176.000) dari terpidana Eni Maulana Saragih," ujar Plt Jubir KPK Ali Fikri dalam rilisnya, Senin (5/4).

Dengan pembayaran cicilan tersebut, maka sisa kewajiban uang pengganti yang harus dibayarkan eks anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar itu adalah Rp 3.787 miliar dari total Rp 5.087 miliar.

"KPK tentu akan tetap melakukan penagihan uang pengganti dari terpidana Eni Maulani Saragih sebagai bagian pemasukan bagi kas negara dari asset recovery tindak pidana korupsi yang ditangani KPK," kata Ali.

Eni divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR itu dinyatakan bersalah menerima uang suap Rp 4,75 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Uang suap dimaksudkan agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1 di PLN.

Proyek itu sedianya ditangani PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC Ltd). Kotjo merupakan pemilik BNR yang mengajak perusahaan asal China itu untuk menggarap proyek.

Suap dari Kotjo sebagian digunakan Eni untuk kepentingan munaslub Golkar. Ketika itu, Eni diminta Plt Ketum Idrus Marham meminta uang 2,5 juta dolar AS dari Kotjo. Setya Novanto selaku Ketum Golkar sekaligus Ketua DPR saat itu terjerat kasus proyek e-KTP dan digantikan Idrus Marham selaku Sekjen Golkar. 

Eni juga menerima Rp 2 miliar dan Rp 500 juta dari Kotjo untuk keperluan Pilkada Temanggung yang diikuti oleh suaminya, M Al Khadziq. Hakim Pwengadilan Tipikor Jakarta menyakini Eni menerima gratifikasi Rp 5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top