Bupati Bandung Barat Aa Umbara dan Anaknya Tersangka Korupsi Bansos

publicanews - berita politik & hukumPenetapan Bupati Bandung Barat Aa Umbara sebagai tersangka kasus korupsi Bansos di Dinsos Bandung Barat. Umbara dan anaknya tidak hadir. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - KPK menetapkan Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial Covid 19 pada Dinas Sosial Pemkab Bandung Barat 2020.

"Setelah melakukan proses penyelidikan dan menemukan bukti permulaan yang cukup, KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan pada bulan Maret 2021," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (1/4).

Selain Bupati Aa Umbara, KPK turut menetapkan anak Aa Umbara, Andri Wibawa dan M. Totoh Gunawan, pemilik PT Jagat Dir Gantara (JDG) dan CV Sentral Sayuran Garden City Lembang (SSGCL) sebagai tersangka.

Dalam proses penyidikan perkara ini, penyidik KPK telah melakukan pemeriksaan terhadap 30 orang saksi, terdiri ASN Pemkab Bandung Barat dan pihak swasta.

Alex menjelaskan, Pemkab Bandung Barat menganggarkan sejumlah dana untuk penanggulangan pandemi Covid-19 dengan melakukan refocusing APBD 2020 pada Belanja Tidak Terduga (BTT).

Pada April 2020, Bupati Aa Umbara bertemu secara khusus dengan Toto membahas kesanggupan Totoh untuk menjadi salah satu penyedia paket sembako. Disepakati commitment fee 6 persen.

"Untuk merealisasikan keinginan MTG, kemudian AUS memerintahkan Kadis Sosial KBB dan Kepala UKPBJ untuk memilih dan menetapkan MTG sebagai salah satu penyedia pengadaan paket sembako pada Dinas Sosial," ujar Alex.

Pada Mei 2020, Andri Wibawa menemui ayahnya untuk minta dilibatkam enjadi salah satu vendor. Permintaan sang anak langsung disetujui Aa Umbara.

Kemudian pada April-Agustus 2020, dilakukan pembagian bansos dengan 2 jenis paket, yaitu bansos Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebanyak 10 kali pembagian. Total realisasi anggaran adalah Rp 52,1 miliar.

"Dengan menggunakan bendera CV JCM (Jayakusuma Cipta Mandiri) dan
CV SJ (Satria Jakatamilung), AW mendapatkan paket pekerjaan dengan total senilai Rp 36 miliar untuk pengadaan paket bahan pangan Bansos JPS dan pengadaan paket bahan pangan bansos PSBB," Alex menjelaskan.

Sedangkan Totoh dengan menggunakan PT JDG dan SSGCL mendapakan paket pekerjaan dengan total senilai Rp 15, 8 miliar untuk pengadaan bahan pangan Bansos JPS
dan PSBB.

"Dari kegiatan pegadaan tersebut, AUS diduga telah menerima uang sejumlah sekitar Rp 1 miliar," kata Alex.

KPK menduga Totoh menerima keuntungan sekitar Rp 2 milliar dan Andri Rp 2,7 miliar.

KPK menjerat Aa Umbara dengan Pasal 12 huruf i dan atau Pasal 15 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 56 KUHP.

Sedangkan Andri dan Totoh disangkakan melanggar Pasal 12 huruf i dan atau Pasal 15 UU yang sama jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 56 KUHP.

Untuk kepentingan penyidikan, penyidik menahanan Totoh untuk 20 hari ke depan di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur. Sedangkan Aa Umbara dan anaknya mengonfirmasi tidak hadir dalam penetapan tersangka dengan alasan sakit.

"Tim penyidik akan melakukan penjadwalan dan pemanggilan ulang dan mengingatkan agar para tersangka koperatif hadir memenuhi panggilan dimaksud," Alex menandaskan. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top