Korupsi Bansos Covid-19

Saksi Ungkap Paket Bansos Belum Dibayarkan Jika Tidak Beri Fee 12 Persen

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Manager PT Pesona Berkah Gemilang Muhammad Abdurrahman mengakui pernah menemui mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Pertemuan itu untuk membahas tagihan PT Tiga Pilar Agro Utama.

PT Pesona Berkah Gemilang merupakan salah satu vendor penyedia isi paket bantuan sosial (bansos) dari PT Tiga Pilar Agro Utama.

"Saya sampai di Cawang itu awalnya saya enggak boleh masuk atas nama PT Pesona. Jadi (kemudian) saya bilang Tiga Pilar, asisten Pak Joko (antarkan) sampai  ke atas, ketemu Pak Joko," kata Abdurrahman saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/3).

Dalam pertemuan itu, Abdurrahman membicarakan soal tagihan PT Tiga Pilar Agro Utama. Karena selama kurang lebih satu bulan tagihan Tiga Pilar Agro Utama belum dibayarkan.

"Pak, saya mau tanya mengenai tagihan, kenapa kok belum keluar. Katanya cuma sebentar, cuma 14 hari kerja. Tapi sudah lama sekali, sudah satu bulan lebih, kita belum dibayar Tiga Pilar ini," ujar Abdurrahman dalam perbincangan dengan Matheus Joko.

Menurut Abdurrahman, Matheus menyampaikan bahwa PT Tiga Pilar Agro Utama harus menyelesaikan terlebih dahulu permintaannya. "Belum, harus selesai dulu. Itu bahasanya," ujar Abdurrahman.

Direktur Utama PT Pesona Berkah Gemilang Sonawangsih mendapat informasi dari Abdurrahman soal fee sebesar 12 persen. Selama upeti tersebut belum dibayar maka pembayaran paket pengadaan bansos akan tersendat.

"Selama uang itu tidak diterima pak Joko, maka Tiga Pilar tidak dicairkan," ungkap Sona.

Sona menegaskan, ia tidak memerintahkan Abdurrahman meminta uang atau memberikan uang kepada Matheus Joko Santoso. Hanya menanyakan soal anggaran pengadaan paket bansos PT Tiga Pilar Utama yang belum cair.

Dalam perkara ini pengusaha Harry van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja diduga menyuap Juliari agar perusahaan mereka mendapatkan jatah penyaluran bansos Covid-19 se-Jabodetabek tahun 2020.

Uang suap sebesar Rp 3,2 miliar kepada Juliari, ternyata turut pula mengalir kepada Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono.

Adapun dalam dakwaan, jaksa menyebut uang suap yang diberikan Harry kepada Juliari mencapai sebesar Rp 1,28 miliar. Sedangkan, terdakwa Ardian memberikan uang Rp 1,95 miliar. 

Jaksa menjelaskan, PT Mandala Hamonangan Sude milik Harry mendapatkan kuota 1.519.256 paket melalui PT Pertani. Sementara, terdakwa Ardian mendapatkan kuota 115 ribu paket. Ia pemilik PT Tigapilar Agro Utama. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top