Begini Awal Cerita Suap Hiendra pada Nurhadi dan Menantu

publicanews - berita politik & hukumSidang perdana Nurhadi dan Rezky Herbiyono secara virtual pada 22 Oktober 2010 dari Pengadilan Tipikor Jakarta. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto menjadi tersangka karena diduga menyuap Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurahman, ketika itu. Suap tersebut untuk memuluskan sengketa perdata MIT di pengadilan.

"Adapun tersangka diduga memberikan hadiah atau janji berupa uang sejumlah Rp 45.726.955.000 kepada Nurhadi melalui Rezky Herbyiono terkait dengan pengurusan perkara," ujar Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar dalam konferensi pers secara virtual dari Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (29/10) malam.

Lili kemudian menjelaskan kronologi kasus Hiendra. Pada 27 Agustus 2010, Hiendra melalui kuasa hukum Mahdi Yasin dan rekan mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Kasusnya adalah pemutusan sepihak perjanjian sewa depo kontainer milik PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) seluas 57.330 m2 dan 26.800 m2 di wilayah KBN Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Pada 16 Maret 2011, PN Jakut mengabulkan gugatan MIT dan menyatakan bahwa perjanjian sewa tetap sah. Pengadilan menghukum KBN membayar ganti rugi kepada MIT sebesar Rp 81.778.334.544.

Selain Suap, Nurhadi Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 37 Miliar

KBN pun banding dan kemudian kasasi. MA dalam putusannya bernomor 2570 K/Pdt/2012 menyatakan bahwa pemutusan perjanjian sewa menyewa depo kontainer sah. Hakim Agung menghukum MIT membayar ganti rugi Rp 6.805.741.317 secara tunai dan seketika kepada KBN.

"Isi putusan MA tersebut, PT KBN meminta segera dilakukan pelaksanaan eksekusi. Namun HS meminta bantuan Hengky Soenjoto untuk dikenalkan kepada Rahmat Santoso yang merupakan adik ipar Nurhadi atau paman Rezky Herbiyono yang berprofesi sebagai advokat," Lili menjelaskan.

Kemudian pada Juli 2014 bertempat di Café Vin+, Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Hiendra dan Hengky Soenjoto bertemu Rahmat Santoso. Intinya, Hiendra meminta Rahmat menjadi kuasanya dalam pengajuan Peninjauan Kembali (PK) sekaligus mengurus penangguhan eksekusi putusan PN Jakut.

Pada 25 Agustus 2014, Rahmat mengajukan PK dan permohonan penangguhan eksekusi atas putusan Kasasi MA ke PN Jakut.

Halaman selanjutnya


  • 2

    +

    Untuk melempangkan perkaranya Hiendra diduga memberikan hadiah atau janji Rp 45,7 miliar kepada Nurhadi melalui Rezky.

    Pada awal 2015, Rezky melalui Calvin Pratama membuat perjanjian dengan Hiendra dan akan memberikan fee pengurusan administrasi penggunaan lahan depo kontainer sebesar Rp 15 miliar. Ia menjaminkan cek Bank QNB Kesawan atas nama MIT senilai Rp 30 miliar.

    Pada kurun waktu itu juga, bertempat di kantor PT Herbiyono Energi Industri di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Rezky memperkenalkan Hiendra kepada Iwan Cendekia Liman. "Yang bisa membantu HS mendapatkan pendanaan dari Bank Bukopin Surabaya untuk membiayai pengurusan perkara PT MIT," kata Lili.

    Sebagai realisasi kesepakatan tersebut, pada 22 Mei 2015, Rezky menerima Rp 400 juta dari Hiendra yang ditransfer ke rekeningnya. Uang tersebut merupakan pembayaran dimuka. Lalu selanjutnya transfer beberapa kali hingga mencapai Rp 45,7 miliar lebih.

    Panitera Edy Nasution Divonis 5,5 Tahun Penjara

    Walau gugatan kedua di PN Jakut dan PK ditolak, namun Nurhadi dan Rezky tetap menjanjikan kepada Hiendra akan mengupayakan pengurusan perkaranya.

    Menurut Lili, kasus ini merupakan salah satu contoh pengembangan perkara yang berasal dari operasi tangkap tangan (OTT). Semula, pada 20 April 2016, KPK melakukan OTT terhadap Doddy Arfiyanto Supeno dan Panitera Edy Nasution di Hotel Acacia, Jakarta. Barang bukti awal memang kecil, 'hanya' Rp 50 juta.

    "Dari perkara inilah kemudian terbongkar skandal suap yang melibatkan pejabat pengadilan dan pihak swasta dari korporasi besar," ujar Lili.

    Doddy Ariyanto Supeno, Edy Nasution, Eddy Sindoro, dan advokat Lucas yang terjerat belakangan masing-masing telah menjalani pidananya. Sementara Nurhadi dan Rezky baru beberapa hari lalu menjalani sidang dakwaan. (han)


Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Arif K Wibisono @arifkwibisono01 November 2020 | 18:19:33

    Gak ada kata puas. Serakah adalah kata yg cocok.

Back to Top