Eks Dirut BTN Tersangka Gratifikasi Kredit Macet

publicanews - berita politik & hukumDirektur Utama PT Bank Tabungan Negara 2012-2019 H. Maryono. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Kejaksaan Agung menetapkan dua orang tersangka kasus dugaan gratifikasi dalam pemberian kredit dari BTN. Keduanya adalah Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara 2012-2019 H. Maryono dan Direktur PT Pelangi Putera Mandiri Yunan Anwar.

Maryono diduga menerima gratifikasi senilai Rp 2,25 miliar dari Yunan Anwar pada 2014 dan dari PT Titanium Properti (TP) sebesar Rp 870 juta.

"Penerimaan hadiah atau janji atau suap atau gratifikasi tersebut diduga terkait dengan pemberian fasilitas kredit dan pencairan kredit dari BTN kepada PT Pelangi Putera Mandiri (PPM) dan PT Titanium Property," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono melalui keterangan tertulis, Selasa (6/10).

Kejagung menduga Maryono menerima duit tersebut melalui rekening menantunya, Widi Kusuma Purwanto. PPM, Hari menambahkan, mendapatkan fasilitas kredit dari BTN Kantor Cabang Samarinda sebesar Rp 117 miliar pada September 2014.

Sebelum menerima kredit tersebut, Yunan atas nama PPM diduga mengirim uang Rp 2,257 miliar ke rekening Widi. Hingga kini kredit tersebut macet.

Kemudian pada Desember 2013, BTN Kantor Cabang Jakarta Harmoni memberikan kredit sebesar Rp 160 miliar kepada PT Titanium Property. Penyidik kembali menemukan transaksi mencurigakan dari Titanium ke rekening Eifi, menantu Maryono yang lain, total Rp 870 juta.

"Keberhasilan pemberian fasilitas kredit kepada dua perusahaan tersebut diduga atas peran serta HM yang mendorong untuk meloloskan pemberian fasilitas kredit terhadap kedua debitur tersebut walaupun tidak sesuai dengan SOP yang berlaku pada Bank BTN," Hari menjelaskan.

HM dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 5 ayat (2) jo ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun Yunan dijerat 5 ayat (1) huruf a atau huruf atau pasal 13 Undang-undang yang sama. Keduanya kini ditahan di Rutan Salemba Cabang Guntur selama 20 hari yakni sejak 6 Oktober hingga 25 Oktober 2020. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top