Jejak Licin Djoko Tjandra Hingga Hampiri Meja Jokowi

publicanews - berita politik & hukumDjoko Soegiarto Tjandra yang bernama asli Tjan Kok Hui alias Joe Chan. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Djoko S Tjandra menjejakkan kakinya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 8 Juni 2020. Nyaris tidak ada yang peduli terhadap sang buron kecuali kuasa hukumnya Andi Putra Kusuma. Andi mendampinginya dalam proses pendaftaran peninjauan kembali (PK) atas vonis Mahakamah Agung.

"Saya hanya mengetahui beliau saat pendaftaran PK yang di mana PK tersebut didaftarkan sendiri oleh Djoko Tjandra di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," kata Andi di kantor menterengnya di kawasan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (1/7) sore.

Andi menyampaikan kliennya seharusnya hadir dalam sidang PK pertamanya pada 29 Juni lalu. Namun, Djoko tak menampakkan batang hidungnya. Sidang kemudian diundur 6 Juli nanti. Andi tidak bisa memastikan kehadiran kliennya itu.

Nama Djoko kembali jadi buah hibir saat Jaksa Agung ST Burhanuddin menyebutnya dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR. Ia mengaku sakit hati karena mendengar kabar terpidana kasus hak tagih (cessie) Bank Bali itu melenggang bebas di Indonesia. "Informasinya lagi menyakitkan hati saya adalah faktanya 3 bulanan dia ada di sini," kata Jaksa Agung di parlemen, Senin (29/6).

Namun, pernyataan Jaksa Agung itu dibantah Menteri Hukum Yasonna A Laoly dalam rapat di meja yang sama di Senayan, meski beda hari. Ia menyebutkan tidak ada data Djoko masuk ke Indonesia.

"Dari mana data bahwa dia 3 bulan di sini, tidak ada datanya kok," kata politikus PDIP itu sehari kemudian. Yasonna menegaskan tidak ada perlintasan Djoko Soegiarto Tjandra yang bernama asli Tjan Kok Hui, kelahiran Sanggau 27 Agustus 1950, itu.

Licinnya Djoko tampak dari runtutan data yang dibeber Kemenkumham dalam rapat dengan Komisi III tersebut. Sekretaris NCB Interpol menyatakan nama Djoko Soegiarto Tjandra telah terhapus dari sistem basis data terhitung sejak 2014 karena tidak ada permintaan lagi dari Kejaksaan Agung.

Ditjen Imigrasi menindaklanjuti dengan menghapus namanya dari Sistem Perlintasan pada 13 Mei 2020. Baru kemudian pada 27 Juni 2020, terdapat permintaan DPO dari Kejagung. Celah sempit itu yang diduga dimanfaatkan taipan dengan kekayaan hampir Rp 11,5 triliun sebelum krismon 1998, ke Jakarta.

Sepak terjang Djoko berawal dari rintisan usaha Grup Mulia. Ia memulai bisnis bersama empat saudaranya pada 1970. Bisnis properti perkantorannya megah berdiri seperti Five Pillars Office Park, Lippo Life Building, Kuningan Tower, BRI II, dan Mulia Center. Ia juga merambah sektor keramik, metal, dan gelas.

Djoko yang sempat dijuluki 'joker' kemudian berkongsi dengan Setya Novanto, pengusaha sekaligus Wakil Bendahara Partai Golkar. Keduanya mendirikan PT Era Giat Prima (EGP).

Perusahaan itu kemudian diketahui kongkalikong memburu duit fee secara terlembaga. Pada 3 Juni 1990 diketahui EGP mendapat kucuran komisi Rp 546,468 miliar dari mempermainkan perjanjian cessie Bank Bali ke BDNI (Bank Dagang Nasional Indonesia) sebesar Rp 598 miliar dan BUN (Bank Umum Nasional) sebesar Rp 200 miliar antara Bank Bali dan PT EGP.

Namun, aroma tak sedap tercium Kejagung pada September 1999. Kasus itu dipersidangkan dengan jaksa Antasari Azhar. Djoko dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan harus membayar denda Rp 15 juta dan uangnya di Bank Bali sebesar Rp 546 miliar dirampas untuk negara.

Djoko menunjukkan kelicinannya. Sebelum fajar esok hari eksekusi, ia berhasil terbang dengan pesawat carteran dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Port Moresby.

Pada Juni 2012, Djoko yang tentu saja masih tajir melintir itu diberitakan pindah kewarganegaraan Papua Nugini (PNG). Pelarian ke PNG bukan tanpa sebab. Djoko yang telah berganti nama Joe Chan itu kepada media setempat menyebutkan telah menjalin bisnis di negara itu sejak 1972.

Ia sosok di balik Lands Central Ltd yang membangun dan mengelola kompleks perkantoran 32 lantai di Waigani. Ia membangun gedung pencakar langit senilai 360 juta dolar AS di Port Moresby.

Joe Chan menjadi pengusaha papan atas di negara barunya. Bahkan pada 2015, saat Jokowi ke PNG, dikabarkan ia menghampiri meja Presiden Joko Widodo dalam perjamuan di Gedung Parlemen, Port Moresby, PNG.

Mungkin, Juni 2020 lalu ia ke Indonesia sekadar singgah dalam pelesirannya sambil mencari keberuntungan dengan pengajuan PK. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah04 Juli 2020 | 08:55:29

    licin....ular kaleee....🤣

Back to Top