Suap Dana Hibah KONI

Soal Pejabat Kejagung dan BPK Kecipratan, KPK Tuding Imam Tidak Terbuka

publicanews - berita politik & hukumMentan Menpora Imam Nahrawi saat masih menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - KPK menegaskan eks Menpora Imam Nahrawi tidak kooperatif selama persidangan. Menurut Plt Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri, Imam tidak mengakui ada pembicaraan soal aliran uang ke mantan Jaksa Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung Adi Toegarisman dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi.

"Terdakwa Imam Nahrawi tidak kooperatif mengakui fakta adanya penerimaan sejumlah uang maupun pengetahuannya mengenai dugaan pihak-pihak lain juga menerima sejumlah uang sebagaimana apa yang disampaikan penasihan hukumnya," ujar Ali Fikri kepada media, Rabu (1/7).

Ia menegaskan, Imam sudah diputus bersalah dan dihukum 7 tahun penjara. Sejajk awal penyidikan kasus suap dana hibah KONI, Ali menambahkan, KPK telah punya alat bukti yang cukup, termasuk bukti penyadapan pembicaraan dengan Toegarisman dan Qosasi untuk 'mengamankan' jika kemudian ada masalah.

"Diantaranya soal sadapan tersebut, justru merupakan petunjuk benar adanya penerimaan uang oleh terdakwa selaku Menpora saat itu," kata Ali.

KPK mempersilakan pihak tim penasihat hukum Imam Nahrawi untuk mengajukan upaya hukum selanjutnya bila tidak menerima vonis hakim. Termasuk pengakuan memiliki bukti-bukti lain.

"Silakan, jika tim PH maupun terdakwa Imam Mahrawi mempunyai bukti-bukti yang sekarang akan diakuinya, silakan lapor ke KPK," Ali menegaskan.

Kejagung Periksa Ulum Soal Uang Suap KONI ke Oknum Kejaksaan

Pada sidang vonis di Perngadilan Tipikor Jakarta, Selasa (30/6), penasihat hukum Wa Ode Nur Zainab menyesalkan KPK yang tidak mendalami penyadapan percakapan soal aaliran uang ke Adi Toegarisman dan Achsanul Qosasi tersebut. Padahal Miftahul Ulum, aspri Imam, dalamn sidang 15 Mei 2020, menyatakan Adi Toegarisman kecipratan Rp 7 miliar dan Achsanul mendapat Rp 3 miliar.

Namun Ulum meminta maaf atas pernyataannya tersebut. Wa Ode menyebut permintaan maaf tersebut bukan berarti perkataan sebelumnya tidak benar. Menurutnya, Ulum meminta maaf karena menyebutkan gamblang identitas personal.

"Beliau itu sebenarnya dengan gamblang sekali bercerita di persidangan bagaimana beliau tahu ada uang yang diberikan ke instansi penegak hukum 'sebelah', bahkan disebutkan orang-orangnya siapa, yang mengantarkan uangnya siapa, itu disebutkan," kata Wa Ode Selasa (30/6).

Ulum, ia menambahkan, juga menjelaskan kapan uang-uang tersebut diberikan. Kliennya itu sampai pernah diancam agar seakan-akan uang itu diterimanya sendiri, supaya opini yang berkembang justru ke Menpora Imam Nahrawi.

“Ada tapping (sadapan) pembicaraan soal uang itu sebenarnya. Tanya ke KPK. Padahal ada buktinya, tapi itu tidak pernah didalami," Wa Ode menjelaskan. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top