Firli Bantah Tidak Tahu Penangkapan Nurhadi

publicanews - berita politik & hukumNurhadi Abdurrahman seusai menjalani pemriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (2/6). Ia ditangkap sehari sebelumnya. (Foto: Humas KPK)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ketua KPK Firli Bahuri membantah kabar yang menyebut hanya Wakil Ketua Nawawi Pomolango yang mengetahui operasi penangkapan buron Nurhadi Abdurrahman dan menantunya Rezky Herbiyono pada Senin (1/6) malam. Menurut Firli, pimpinan KPK kolektif kolegial dalam proses penangkapan itu.

Pimpinan KPK, katanya, mengikuti seluruh kegiatan mulai dari terdeteksinya posisi Nurhadi sampai penangkapannya.

"Semua pihak memainkan peran sesuai tataran kewenangan. Mulai dari kelengkapan administrasi (surat perintah, minta bantuan personel Polri) karena hal ini penting supaya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial," ujar Firli saat dikonfirmasi, Rabu (3/6).

Ia mengatakan Firli pimpinan KPK terus mengikuti proses penindakan mulai dari tangkap, geledah, sampai tersangka dibawa ke kantor KPK untuk diperiksa.

"Kita kerja sesuai dengan tugas pokok, peran, fungsi kewenangan KPK. Apa yang dicapai pastilah karena semua pihak memberi andil," Firli menjelaskan.

Novel Baswedan Turut dalam Penangkapan Buron Nurhadi

Ia juga mengapresiasi kepada masyarakat karena memberikan informasi keberadaan Nurhadi. "Hal penting tidak ada orang bisa meraih sukses tanpa orang lain," Firli menegaskan.

Nurhadi dan Rezky Herbiyono diamankan di rumah yang berlokasi di Jalan Simprug Golf 17 No. 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurut data yang dikumpulkan, rumah tersebut ditempati Rezky. Rumah tersebut diduga digunakan sebagai tempat persembunyian Nurhadi pasca ditetapkan sebagai buron pada Februari lalu.

Saat ditangkap Nurhadi tidak bersikap kooperatif hingga akhirnya tim penyidik KPK melakukan upaya paksa membuka gerbang dan pintu rumah.

Dalam perkara ini, KPK menduga Nurhadi menerima suap dan gratifikasi dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Duit ia terima melalui Rezky.

Nurhadi dan Rezky disangkakan menerima total Rp 46 miliar dalam kasus mafia perkara di MA pada 2011-2016. Suap tersebut mereka untuk mengurus dua perkara perdata. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top