Mafia Kasus

Breaking News: Nurhadi dan Menantu Akhirnya Tertangkap KPK

publicanews - berita politik & hukumEks Sekretaris MA Nurhadi. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Setelah dinyatakan buron sejak 13 Februari 2020, akhirnya eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrahman tertangkap. Tim penyidik KPK mengamankan tersangka kasus dugaan pengaturan perkara di MA itu bersama menantunya Rezky Herbiyono, yang juga tersangka, pada Senin (1/6) malam.

"Terima kasih dan penghargaan kepada rekan-rekan penyidik dan unit terkait lainnya yang terus bekerja sampai berhasil menangkap NHD dan menantunya RH," ujar Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango saat dikonfirmasi awak media, Senin (1/6) malam.

Nawawi mengatakan, penangkapan keduanya berlangsung di sebuah rumah di Jakarta Selatan. Untuk info lebih lengkap, Nawawi menambahkan, akan diungkap dalam konferensi pers pada Selasa (2/6).

Sekadar catatan, Nurhadi memiliki rumah di Jalan Hang Lekir, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Adapun Rezky punya tempat tinggal di kawasan Simprug, Patal Senayan. Lalu, MAKI pernah melaporkan Nurhadi diam-diam membeli apartemen di SCBD, juga di Jakarta Selatan. Bisa jadi di salah satu lokasi itulah KPK meringkus Nurhadi dan sang menantu.

Dengan tertangkapnya Nurhadi dan Rezky, berarti buron KPK dalam kasus ini tinggal satu orang, yakni Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto. Ketiganya kompak tak mengindahkan panggilan KPK dan memilih kabur. Mereka juga kompak mengajukan gugatan praperadilan hingga dua kali dari tempat persembunyiannya.

Buron Nurhadi Terlacak Tukarkan Uang Rp 2,5 Miliar, Bagaimana KPK?

Dalam perkara ini, KPK menduga Nurhadi menerima suap dan gratifikasi dari Hiendra Soenjoto. Duit ia terima melalui Rezky.

Nurhadi dan Rezky disangkakan menerima total Rp 46 miliar dalam kasus mafia perkara di MA tahun 2011-2016. Suap tersebut mereka untuk mengurus dua perkara perdata di MA.

Pertama, melibatkan MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara. Kemudian perkara perdata sengketa saham MIT dengan nilai suap Rp 33,1 miliar.

Adapun gratifikasi, Nurhadi melalui sang menantu dalam periode Oktober 2014–Agustus 2016 diduga menerima total Rp 12,9 miliar. Uang untuk penanganan sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian. (han)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah02 Juni 2020 | 09:54:06

    tupai tupai....jatoh juga akhirnya. bisa ke mana mana nih kaitannya....wkwkwkwk

  2. de'fara @shahiaFM02 Juni 2020 | 06:30:53

    Dari 3, masih 1 lg. Ini bukti konsisten dan komitmennya KPK.

    Sikat habis koruptor di Indonesia.

Back to Top