Suap Komisioner KPU

ICW Sudah Prediksi Vonis Saeful Bahri Bakal Rendah

publicanews - berita politik & hukumSaeful Bahri, (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana telah memprediksi vonis eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan mantan calon anggota legislatif PDIP Harun Masiku akan sangat rendah.

Menurut Kurnia, vonis 1,8 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim pada Saeful Bahri tidak terlepas dari kerja penuntutan KPK yang menganggap enteng perkara ini. Jaksa KPK hanya menuntut politikus PDIP itu 2 tahun 6 bulan penjara.

"Putusan ini semakin menambah daftar panjang vonis ringan perkara korupsi. Catatan ICW sepanjang tahun 2019 rata-rata vonis perkara korupsi hanya 2 tahun 7 bulan penjara," ujar Kurnia saat dikonfirmasi, Kamis (28/5).

Dari kasus ini Kurnia berpendapat publik bisa melihat secara jelas bahwa KPK telah melunak dengan para pelaku korupsi. Publik dipaksa untuk berdamai dengan situasi kepemimpinan KPK yang sebenarnya sangat jauh dari kata ideal.

"Atau jika menggunakan kosa kata yang sedang populer saat ini bisa dikatakan bahwa KPK telah memasuki era 'new normal' di bawah kepemimpinan Komjen Firli Bahuri," katanya, sinis.

Saeful Bahri Divonis 1,8 Tahun Penjara

Kurnia menambahkan, sejak dulu ICW mewanti-wanti agar Presiden Joko Widodo dan DPR tidak salah memilih ketika proses seleksi pimpinan KPK Jilid V. Salah pilih akan memberikan efek buruk bagi pemberantasan korupsi mendatang.

Ia berharap vonis-vonis ringan seperti ini menjadi fokus bagi Ketua Mahkamah Agung yang baru. Bila tidak, efek jera bagi pelaku korupsi tidak akan terwujud.

Dalam kasus ini Jaksa meyakini Saeful Bahri menyuap Wahyu sebesar 57.350 dolar Singapura atau setara Rp 600 juta melalui orang dekat Wahyu, yang juga bekas caleg PDIP, Agustiani Tio.

Jaksa menyetakan perbuatan Saeful Bahri itu dilakukan bersama-sama dengan mantan caleg PDIP lainnya, Harun Masiku, yang hingga kini masih buron. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top