Wahyu Setiawan Juga Terima Suap Seleksi Calon KPUD Papua Barat

publicanews - berita politik & hukumBekas Komisioner KPU Wahyu Setiawan. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Selain kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR, Jaksa juga mendakwa mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan menerima uang Rp 500 juta dari Rosa Muhammad Thamrin Payapo. Uang diberikan terkait dengan proses seleksi calon anggota KPUD Papua Barat periode 2020-2025.

"Terdakwa I selaku anggota Komisi Pemilihan periode 2017-2022 menerima hadiah atau janji, berupa uang sebesar Rp 500 dari Rosa Muhammad Thamrin Payapo melalui transfer pada rekening bank," ujar Jaksa Takdir Suhan dalam sidang virtual, Kamis (26/5).

Jaksa menjelaskan, Wahyu diduga meminjam rekening Ika Indrayani, istri sepupunya, untuk menerima uang suap tersebut dengan dalih keperluan bisnis.

Menurut Jaksa Takdir, Wahyu menerima Rosa di ruang kerjanya di KPU sekitar November 2019. Saat itu Wahyu menanyakan 'kesiapan' Gubernur Papua Dominggus Mandacan dalam proses seleksi calon anggota KPUD Papua Barat.

"Pada saat itu terdakwa I menyampaikan 'bagaimana kesiapan Pak Gubernur, ah cari-cari uang dulu', yang dipahami oleh Rosa bahwa terdakwa I diyakini dapat membantu dalam proses seleksi calon anggota KPU Provinsi Papua Barat karena secara umum diketahui adanya keinginan masyarakat Papua agar anggota KPU Provinsi Papua Barat yang terpilih nantinya ada yang berasal dari putra daerah asli Papua," ujar Jaksa.

Sepulang dari Jakarta, Rosa melaporkan hasil pertemuannya dengan Wahyu kepada Dominggus Mandacan. Namun, Dominggus tidak menghiraukan soal permintaan uang. Dominggus hanya mengatakan akan melihat perkembangan proses seleksi calon anggota KPUD.

Takdir mengatakan, Rosa meyakini Wahyu dapat membantu memperjuangkan calon anggota KPU Provinsi Papua Barat terpilih dengan imbalan uang. "Atas penyampaian tersebut Dominggus Mandacan merespons dengan mengatakan 'Nanti kita lihat perkembangan'," kata Jaksa.

Proses seleksi diikuti 70 orang, 33 diantaranya Orang Asli Papua (OAP). Pada tes wawancara dan kesehatan, hanya menyisakan 3 tiga OAP diantara 8 peserta. Ketiganya Amus Atkana, Onesimus Kambu, dan Paskalis Semunya.

Warga asli Papua pun melakukan aksi protes di Kantor KPU Daerah Provinsi Papua Barat. Pemprov Papua pun meminta ada putra daerah terpilih. Dominggus akhirnya mengupayakan pemberian uang ke Wahyu melalui Rosa.

Pada 20 Desember 2019, Rosa Muhammad Thamrin Payapo menghubungi Wahyu di Jakarta. "Agar Amus Atkana dan Onesimus Kambu sebagai putra daerah Papua dapat dibantu dalam proses seleksi agar terpilih," Jaksa membeberkan.

Wahyu didakwa melanggar Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top