Suap Proyek Jalan

Dirut Hutama Karya Aspal Beton Dipanggil KPK

publicanews - berita politik & hukumGedung KPK. (Foto: Publicanews)
PUBLICANEWS, Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Hutama Karya Aspal Beton (Hakaaston) Dindin Solahudin diperiksa KPK dalam kasus dugaan korupsi pembangunan jalan di Kabupaten Bengkalis, Riau.

Ia akan dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka mantan Sekda Dumai M Nasir (MNS).

"Yang bersangkutan diperiksa untuk berkas tersangka MNS," ujar Jubir KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Kamis (20/2).

Pada 17 Januari 2020 lalu, KPK menetapkan 10 orang tersangka korupsi proyek tahun jamak 2013-2015 tersebut. Kasus ini berawal ketika pada 2013 lalu, Pemkab Bengkalis melakukan tender enam proyek dengan nilai total Rp 2,5 triliun.

Keenam proyek adalah:
1) Peningkatan Jalan Batu Panjang–Pangkalan Nyirih (sudah putusan PN).
2) Pembangunan Jalan Duri–Sei Pakning (sedang disidik).
3) Peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu–Siak Kecil.
4) Peningkatan Jalan Lingkar Pulau Bengkalis.
5) Pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri.
6) Proyek Pembangunan Jalan Lingkar Timur Duri.

Untuk proyek 3 hinga 6 statusnya ditingkatkan menjadi penyidikan. "Setelah menemukan adanya bukti permulaan yang cukup dugaan tindak pidana korupsi, baik di dalam proses penganggaran maupun pelaksanaannya," ujar Ketua KPK Firli Bahuri dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, 17 Januari lalu.

Untuk proyek peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu–Siak Kecil tersangkanya adalah M Nasir selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), kontraktor Handoko dan Melia Boentaran (MB). Nilai kerugian Rp 156 miliar

Sementara dalam proyek peningkatan Jalan Lingkar Pulau Bengkalis, nilai kerugian mencapai Rp 126 miliar. Para tersangka yakni Nasir, dan PPTK Tirtha Adhi Kazmi. Kemudian empat kontraktor, yakni I Ketut Surbawa, Petrus Edy Susanto, Didiet Hadianto, dan Firjan Taufa.

Kemudian proyek pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri nilai kerugian mencapai Rp 152 miliar dengan tersangka Nasir dan kontraktor Victor Sitorus. Sementara untuk proyek pembangunan Jalan Lingkar Timur Duri, nilai kerugian mencapai Rp 41 miliar dengan tersangka Nasir dan kontraktor Suryadi Halim alias Tando.

Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top