Aktivis Papua Pakai Koteka, Hakim Tunda Sidang

publicanews - berita politik & hukumEnam terdakwa asal Papua di PN Jakarta Pusat, Senin (20/1). (foto: Isttimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Dua dari enam terdakwa kasus pengibaran bendera bintang kejora tetap mengenakan koteka di PN Jakarta Pusat, Senin (20/1). Dalam sidang pekan lalu, dua terdakwa yaitu Ambrosius Mulait dan Dano Anes Tabuni memakai busana budaya Papua tersebut.

Ketua majelis hakim Agustinus Setyo Wahyu menolak sidang dilanjutkan. Setyo beralasan pakaian itu hanya dikenakan dalam acara adat sehingga tidak sesuai dikenakan dalam persidangan.

Humas PN Jakpus Makmur mengatakan penundaan sidang Surya Anta Ginting Cs bukan karena diskriminasi. Makmur mengatakan telah berkoordinasi dengan PN di Jayapura.

Makmur mengklaim berdasarkan informasi yang diterima, tidak ada terdakwa yang mengenakan pakaian adat koteka dalam persidangan di Jayapura.

"Jadi, PN tidak pernah berniat mau menerapkan diskriminasi," ujar Makmur di PN Jakpus, Jakarta, Senin siang.

Kuasa hukum enam aktivis Papua Michael Himan mengatakan tidak bisa menghalangi terdakwa mengenakan koteka. Ia membantah bila mengenakan busana adat berbenturan dengan kesopanan.

"Kesopanan seperti apa nggak pernah dijelaskan secara detail. Sehingga para tapol Papua Surya Cs tetap akan memakai koteka," kata Michael.

Sidang hari ini, seharusnya mengagendakan jawaban jaksa atas eksepsi penasihat hukum. Enam terdakwa selain Ambrosius dan Dano, yaitu Surya Anta, Charles Kossay, Isay Wenda, dan Arina Lokbere.

Keenamnya didakwa melakukan makar dan pemufkatan jahat. Mereka didakwa melanggar Pasal 106 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP atau mengenai makar. Mereka juga didakwa Pasal 110 ayat (1) KUHP.

Surya Anta Cs ditangkap aparat kepolisian setelah melakukan aksi pengibaran bendera Kejora dan orasi di depan Istana Negara pada 28 Agustus 2019. (feh)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(1)

Login
  1. WE_A @WandiAli21 Januari 2020 | 18:05:19

    Mana acara adat, mana resmi, mereka tdk paham. Repot memang.

Back to Top