KPK Tunggu Investigasi Bea Cukai Soal Penyelundupan Harley Davidson

publicanews - berita politik & hukumKetua KPK Agus Rahardjo. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - KPK menunggu pihak Direktorat Bea Cukai Kementerian Keuangan yang tengah mendalami kasus penyelundupan komponen motor Harley Davidson dan sepeda lipat merek Brompton di lambung pesawat Garuda Indonesia. Kasus ini telah membuat Dirut Garuda I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra atau Ari Ashkara dipecat.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, bila ada indikasi korupsi makam komisi antirasuah segera turun tangan.

"Kalau mereka menemukan juga tindak pidana korupsi pasti nanti akan melibatkan polisi atau KPK. Dalam hal penanganan oleh kepolisian, seluruh sprindiknya tentu dilaporkan ke KPK. Kemudian KPK akan mengkoordinir dan supervisi," ujar Agus di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (6/12).

Bila hasil pendalaman Bea Cukai hanya terdapat pelanggaran perpajakan, ia menambahkan, maka KPK tidak akan masuk ke dalam ranah penindakan.

"Kita tunggu PPNS Ditjen Bea Cukai dan PPNS Ditjen Pajak. Kalau hanya pelanggaran bea masuk dan pajak, hanya mereka yang berwenang menindak," Agus menandaskan.

Selundupkan Harley Lawas, Dirut Garuda Dipecat

Menteri BUMN Erick Thohir teleh memberhentikan Ari Ashkara (AA). Hasil pemeriksaan Komite Audit menjelaskan komponen Harley-Davidson merupakan pesanan Ari melalui pegawainya.

Pembayaran dilakukan pada April 2019, ditransfer ke rekening pribadi bagian keuangan Finance Manager Garuda di Amsterdam, Belanda.

Motor klasik era 1970 itu diterbangkan ke Indonesia oleh pegawai Garuda berinisial SAS menggunakan pesawat baru Airbus A330-900.

Pesawat mendarat di Garuda Maintenance Facilities (GMF), Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada 17 November 2019 lalu. Berdasar pemeriksaan Bea Cukai, terdapat 18 kotak bawaan, berupa 15 Kotak suku cadang motor Harley Davidson bekas dalam kondisi terurai dan tiga kotak lainnya berisi sepeda Brompton. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top