Pemeriksaan Chusnunia untuk Telusuri Dana Politik Mustafa dalam Pilgub

publicanews - berita politik & hukumBupati nonaktif Lampung Tengah Mustafa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta beberapa waktu lalu. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pemeriksaan KPK terhadap Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim untuk menelusuri dugaan pemberian uang untuk pencalonan Mustafa dalam Pemilihan Gubernur Lampung 2018. Mustafa yang merupakan Bupati Lampung Tengah gagal dalam pilkada tersebut.

Chusnunia, yang akrab disapa Nunik, dimintai keterangan sebagai saksi kasus Mustafa. Ketika Pilkada Lampung berlangsung, wanita 37 tahun itu masih menjadi Bupati Lampung Timur.

"Penyidik mendalami pengetahuan saksi terkait dugaan pemberian uang untuk rencana pencalonan tersangka MUS sebagai bakal calon Gubernur Lampung 2018. Diduga sumber uang adalah dari pihak rekanan di Lampung Tengah," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (13/11).

Febri tidak menjelaskan hubungan Nunik yang Bupati Lamtim dan kemudian menjadi Wagub Lampung dengan Mustafa yang merupakan pesaingnya dalam Pilgub 2018. KPK memeriksa wanita politikus PKB itu dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Lamteng.

Mustafa maju Pilgub berpasangan dengan Ahmad Jajuli. Adapun Nunik digandeng oleh Arinal Djunaidi yang kemudian tampil sebagai pemenang.

Bupati Nonaktif Lamteng Mustafa Tersangka Gratifikasi Rp 95 M

Sebelumnya, pada 30 Januari 2019, KPK menjerat empat anggota DPRD Lamteng sebagai tersangka suap pinjaman daerah kepada PT SMI sebesar Rp 300 miliar. Uang tersebut untuk pembangunan jalan dan jembatan. Keempatnya adalah Zainudin, Bunyana, Raden Zugiri dan Achmad Junaidi.

Dalam kasus ini Mustafa telah divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan oleh Pengadilan Tipikor Jakarta.

KPK kembali menetapkan Mustafa sebagai tersangka kasus dugaan menerima hadiah atau janji dalam pengadaan barang dan jasa. Dalam hal ini, Mustafa diduga menerima fee atas ijon proyek-proyek pada Dinas Bina Marga.

Total suap dan gratifikasi yang diterima Mustafa selama menjadi bupati periode 2016-2021 ditaksir sebesar Rp 95 miliar. Sebagian besar duit berasal dari pemilik PT Sorento Nusantara Nudi Winarto dan bos PT Purna Arena Yudha Simon Susilo. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top