Suap Distribusi Gula

Saksi Tak Mau Jawab Kontrak Panjang untuk PT Fajar Mulia

publicanews - berita politik & hukumDirektur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo usai diperiksa KPK, Rabu (13/11) siang. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Keluar dari pemeriksaannya, Rabu (13/11) pukul 14.28 WIB, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X Dwi Satriyo Annurogo mengatakan ia disodori 17 pertanyaan oleh penyidik KPK. Ia menjelaskan bahwa PTPN X adalah anak perusahaan holding Perkebunan Nusantara dengan fokus mengurusi komoditas gula.

"(Pertanyaan) seputar tanggung jawab saya di PTPN X, kemudian mekanisme perusahaan dan mekanisme-mekanisme produksi dan penjualan yang ada," ujar Dwi di Gedung KPK, Jakarta, Rabu siang.

Namun ia menolak menjawab ketika ditanya media soal proses penunjukan PT Fajar Mulia Transindo hingga akhirnya memenangkan tender distribusi gula dengan skema long term contract ini.

"Terkait pertanyaan itu mungkin di penyidik ya," ujar Dwi sambil buru-buru pergi.

Selang setengah jam kemudian, Direktur PTPN IX Gede Meivera juga keluar dari lobi Gedung KPK. Ia hanya tersenyum sambil berjalan meninggalkan kerumunan wartawan.

Keduanya diperiksa sebagai saksi Direktur Pemasaran PTP III I Kadek Kertha Laksana. Dalam kasus suap distribusi gula ini, KPK juga menetapkan dua tersangka laynnya, yakni eks Dirut PTPN III Dolly Pulungan dan bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi.

KPK menduga Dolly melalui Kadek menerima suap 345 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 3,5 miliar dari Pieko. Pada awal 2019, perusahaan Pieko ditunjuk untuk memngimpor gula dalam skema kontrak jangka panjang.

Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen, yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Arum Sabil.

Pada sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko untuk menyelesaikan persoalan pribadinya melalui Arum Sabil.

Dolly kemudian meminta Kadek menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang tersebut. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN di Kantor PTPN, Jakarta, pada 2 September 2019.

KPBN adalah anak perusahaan PTPN III. Kemudian Corry mengantarkan uang tersebut kepada ke Kadek di Kantor KPBN. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top