Suap Distribusi Gula

KPK Panggil Dirut PTPN X dan PTPN XI

publicanews - berita politik & hukumDirektur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Para bos PT Perkebunan Nusantara (PTPN) satu persatu dipanggil KPK untuk mendalami kasus dugaan suap koleganya di PTPN III. Hari ini, penyidik memeriksa Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo dan Dirut PTPN XI Gede Meivera Utama Andjana Putra.

Sedianya Dwi Satriyo akan diperiksa sebagai saksi untuk kasus suap distribusi gula yang menjerat Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IKL (I Kadek Kertha Laksana)," kata Jubir KPK Febri Diansyah melalui pesan singkat, Rabu (13/11).

Kemarin, Selasa (12/11), penyidik telah memanggil Dirut PTPN XII M Cholidi dan Dirut PTPN IX Iryanto Hutagaol. Keduanya dipanggil untuk melengkapi berkas tersangka Dirut PTPN III Dolly Pulungan.‎ Namun Cholidi tidak datang, sementara Iryanto bungkam usai diperiksa KPK.

PTPN III merupakan induk BUMN perkebunan yang membawahi 13 PTPN, termasuk PTPN X dan PTPN IX.

Dalam kasus rasuah ini KPK telah menetapkan tiga tersangka, yakni Dolly Pulungan, I Kadek Kertha Laksana, dan pengusaha gula yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi.

Penetapan ketiganya sebagai tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa intensif sejumlah pihak yang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta pada 3 September 2019 lalu.

Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap 345 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 3,5 miliar dari Pieko. Pada awal 2019, perusahaan Pieko ditunjuk untuk memngimpor gula dalam skema long term contract dengan PTPN III.

Dalam kontrak ini, PT Fajar Mulia Transindo mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan. Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen, yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Arum Sabil.

Pada sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko untuk menyelesaikan persoalan pribadinya melalui Arum Sabil.

Dolly kemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN di Kantor PTPN, Jakarta, pada 2 September 2019.

KPBN adalah anak perusahaan PTPN III. Kemudian Corry mengantarkan uang tersebut kepada ke Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top