Suap Impor Bawang

KPK Dalami Kewenangan Sekjen Kemendag Terbitkan Izin Impor

publicanews - berita politik & hukumSekjen Kementerian Perdagangan Oke Nurwan di lobi Gedung KPK, Jumat (25/10), untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus suap izin impor bawang putih. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pemeriksaan KPK terhadap Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Oke Nurwan untuk mendalami kewenangannya dalam penerbitan surat perintah ekspor bawang putih. Kasus ini menjerat eks anggota Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra.

Dalam keterangan tertulisnya Juru Bicara KPK Febri Diansyah juga menyampaikan imbauan KPK yang meminta Menteri Perdagangan membantu agar setiap bawahannya yang dipanggil penegak hukum bersikap kooperatif. Hal tersebut sesuai instruksi Presiden Jokowi saat mengumumkan kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/10).

Diketahui Oke Nurwan baru memenuhi panggilan kelima KPK hari ini setelah empat kali mangkir. "Mengingat saksi yang bersangkutan sudah beberapa kali dipanggil penyidik dan baru kali ini memenuhi panggilan," ujar Febri, Jumat (25/10).

Dhamantra adalah tersangka kasus dugaan suap rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian dan surat persetujuan impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan. Kedua surat impor tersebut untuk komoditas bawang putih.

Pengumuman Dhamantra sebagai tersangka bersamaan dengan pembukaan Kongres PDIP di Bali, KPK kemudian menjemput Dhamantra di Bandara Soekarno-Hatta pada 8 Agustus 2019. Ia menjadi tersangka bersama lima orang lainnya, yakni pengusaha Mirawati Basti, Elviyanto, Chandry Suanda, Doddy Wahyudi, dan Zulfikar.

Dhamantra diduga meminta imbalan Rp 3,6 miliar untuk membantu Chandry dan Doddy mengurus RIPH dan SPI. Chandry dan Doddy terlebih dulu bertemu Mirawati serta Elviyanto guna memuluskan urusan impor tersebut.

Dalam kesepakatan tersebut, Dhamantra meminta upah Rp 1.700-Rp 1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor. Sementara kuota impor bawang putih untuk 2019 sebesar 20 ribu ton.

Penyidik menduga Dhamantra baru menerima Rp 2 miliar dari kesepakatan. Uang diterimanya melalui transfer dari money changer Indocev miliknya. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top